Connect with us

Megapolitan

Akal-Akalan Bisnis Tes COVID-19, Dulu Jaya Kini Tak Berdaya

Published

on

REPORTASE INDONESIA – Pemerintah resmi mencabut pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) dan tak lagi mewajibkan swab antigen atau PCR. Bagaimana nasib bisnis layanan tersebut?

Berdasarkan pantauan, Senin (2/1/2023) sejumlah tempat swab antigen dan PCR tidak seperti situasi tahun lalu atau awal pandemi. Salah satu layanan swab di daerah Pamulang, Tangerang Selatan misalnya, terpantau sepi konsumen.

Tempat pukul 08.30 WIB, terlihat hanya 3 konsumen yang melakukan swab antigen atau PCR. Kursi-kursi yang disediakan juga kosong. Padahal tahun lalu, tempat drive thru swab ini bisa antre sampai ke jalan raya.

Berdasarkan keterangan salah satu petugas, memang permintaan swab antigen dan PCR semakin sedikit. Tetapi setiap harinya tetap ada yang datang untuk swab. Petugas tersebut mengatakan paling banyak dari kalangan karyawan.

“Iya semakin sedikit, tapi biasanya paling banyak itu dari kantor ya untuk karyawan,” tutur salah satu petugas.

Berkaitan dengan adanya pencabutan kebijakan PPKM, petugas itu memprediksi permintaan akan swab antigen dan PCR akan semakin sedikit permintaan ke depannya. Apa lagi ditambah keterangan Menkes yang mengatakan sudah tak mewajibkan lagi kedua test tersebut.

“Kalau sudah tidak diwajibkan ya akan semakin sedikit pastinya, tergantung kebijakan nanti kayaknya,” jelasnya.

Di tempat berbeda, salah satu layanan Dokter 24 Jam di Ciputat juga pagi tadi terpantau sepi pasien, baik pasien berobat ataupun permintaan swab antigen atau PCR. Salah satu staf administrasi mengklaim untuk swab antigen sendiri sebenarnya masih banyak permintaan. Layanan yang semakin sedikit itu swab PCR.

“Kalau antigen sendiri itu masih banyak ko 20-30 orang biasanya sehari. Walaupun itu sedikit ya dibandingkan permintaan tahun lalu atau awal pandemi,” ujarnya.

Ia mengatakan paling banyak permintaan swab antigen dan PCR ini dari kalangan karyawan. Meski masih banyak permintaan jumlah kasus positif diakui sudah berkurang.

“Kalau dulu itu bisa puluhan yang positif, kalau sekarang paling sehari satu yang positif. Jadi masih banyak ko permintaan swab ini belakangan,” lanjutnya.

Staf tersebut mengaku tidak khawatir akan adanya PPKM, menurutnya kebutuhan swab antigen dan PCR masih akan dicari oleh masyarakat. Apa lagi, dikatakan pandemi COVID-19 ini masih berlangsung.

“Permintaan kayaknya masih tetap ada ya, mungkin karena kebutuhan atau sakit diperlukan antigen juga pasti masih tetap ada permintaannya,” pungkasnya.

Seperti kita ketahui bersama, layanan swab antigen dan PCR dulu ramai pengunjung. Bahkan harga layanan itu juga sempat selangit.

Hal tersebut terjadi pada awal pandemi COVID-19 yakni 2020 hingga 2021. Saat itu angka kasus COVID-19 terus meningkat dengan berbagai macam pergantian jenis virus yang berganti-ganti.

Layanan swab antigen dan PCR saat itu booming karena pemerintah mengedepankan tracking dan tracing hingga tes swab dan vaksin menjadi syarat utama bagi masyarakat untuk dapat beraktivitas di ruang publik. Harganya pada awal 2020 saja untuk swab PCR sendiri sempat menginjak angka Rp 2,5 juta.

Hingga akhirnya, Usai melalui polemik ini, akhirnya meminta agar biaya tes PCR berada di kisaran Rp 450-550 ribu.

Sejak saat itu, harga layanan swab antigen dan PCR terus mengalami penurunan. Hal ini juga seiring dengan menurunnya kasus COVID-19 di dalam negeri. (ut)

Megapolitan

MUI Minta KPI Beri Sanksi untuk Tiga Stasiun TV karena Tayangkan 4 Acara ini

Published

on

REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Tim Pantauan Tayangan Ramadan 1445 Hijriah Komisi Informasi dan Komunikasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyayangkan ada tiga stasiun televisi yang masih menayangkan konten program diduga terdapat banyak potensi pelanggaran.

Dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa, ketiga stasiun televisi tersebut adalah ANTV dengan program “Pesbukers Ramadhan”, Trans TV dengan program “Berkahnya Ramadhan”, serta Trans 7 dengan program “Sahur Lebih Segerrr” dan “Pas Buka FM”.

Wakil Ketua II Tim Pemantauan Ramadan 1445 Hijriah Komisi Infokom MUI Rida Hesti mengatakan berdasarkan hasil pantauan tim pada tahap kedua selama kurun waktu 25 Maret hingga 3 April 2024 ditemukan  sejumlah potensi pelanggaran yang ditemukan masih berputar pada body shaming, kekerasan, ketidakpatutan, dan potensi eksploitasi terhadap anak.

“Potensi pelanggaran seperti ini terulang dan seakan tidak mau belajar dari koreksi publik,” kata Rida.

Dia mengatakan bahwa ketiga stasiun televisi itu belum sepenuhnya memenuhi catatan dan koreksi perbaikan temuan tim pada pantauan tahap satu.

Kendati demikian, Rida juga mengapresiasi sebagian program stasiun televisi yang tidak lagi memuat program yang terindikasikan adegan fisik laki suka sama laki (LSL) sebagaimana dalam hasil pantauan tahap satu.

Atas temuan dugaan pelanggaran tersebut, MUI meminta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bersikap tegas.

Tidak hanya pada aspek pembinaan khusus, tetapi perlu memberikan sanksi apabila memang terbukti melanggar, sesuai level pelanggaran ketiga stasiun televisi tersebut. (tw)

Continue Reading

Nusantara

Agak Laen, Mudik Idul Fitri 2024 Pakai Helikopter Hanya Rp 2,5 Juta dan Anti Macet

Published

on

REPORTASE INDONESIA – Jateng, Minimal sekali dalam seumur hidup anda mencoba naik Helikopter, terlebih momen Idul Fitri dimana semua orang ingin mudik ke kampung halaman dan terlihat agak laen.

Mudik ke kampung halaman dengan helikopter akan terasa lebih cepat, bebas macet, bebas banjir pake saja jasa helikopter.

Heli Jateng pada edisi Idul Fitri 2024/1445 Hijriyah ini membuka promo tanpa minimum pax. Khusus buat anda yang ingin merasakan sensasi dan experience naik helikopter anda harus menyiapkan Rp 2,5 juta/pax 13 menit.

Untuk pemesanan anda bisa mengunjungi https://helijateng.com, titik poin di Demak Green Garden.

Selain promo mudik HeliJateng juga melayani jasa Medical and Evacuation, Heli Agent Bisnis, Heli Sky Tour, Heli Charter A to B dan Heli Entertain and Event.

Helikopter Spesifikasi: Bell 206 JET, Ranger III, Registrasi PK – AVT, Cabin 4 Setter, Endurace 03.30 Hours. (ut)

Continue Reading

Megapolitan

Alasan Muhammadiyah Umumkan Penetapan Idul Fitri Lebih Awal

Published

on

REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengemukakan alasan pihaknya menetapkan Hari Raya Idul Fitri lebih awal dibandingkan dengan pemerintah.

“Maklumat Muhammadiyah ini normal terjadi dilakukan, karena kami menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal,” kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir melalui video di kanal YouTube Muhammadiy,harah Channel di Jakarta, Minggu.

Haedar menegaskan maklumat yang disampaikan oleh pihaknya lebih awal tidak bermaksud untuk mendahului dan meninggalkan pihak tertentu dalam penentuan Idul Fitri.

“Ini hal yang lumrah terjadi setiap tahun, sebagaimana juga berbagai organisasi Islam itu mengeluarkan kalender, baik kalender hijriah yang berisi tanggal dalam hijriah yang ada irisan dengan ritual ibadah, atau mungkin juga kalender miladiyah (masehi) yang terkait dengan tanggal yang menyangkut kegiatan publik,” katanya.

Bila terdapat kesamaan dan perbedaan dalam tanggal yang ditentukan kata Haedar, hal tersebut harus bisa menjadikan kaum Muslimin menjadi toleran, tasamuh (saling menghargai), dan tanawu (saling menghormati perbedaan cara dalam hal menjalankan ibadah).

“Sehingga, pesan ini justru akan memperkuat niat kita dalam beribadah,” ucapnya.

Untuk menyelesaikan masalah perbedaan, kata Haedar, Muhammadiyah terus mendorong seluruh pihak dalam mewujudkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Menurut dia, KHGT diharapkan tidak hanya berlaku untuk Indonesia saja, melainkan untuk umat Islam di seluruh dunia, sehingga perbedaan itu tidak terus berulang.

“Satu kalender global itu seperti juga kalender miladiyah (masehi). Sehingga, tidak lagi ada perbedaan dan tidak lagi ada kegiatan yang bersifat membuat kita ikhtilaf atau berbeda dalam penentuan,” tutur Haedar Nashir. (tri)

Continue Reading
Advertisement

Trending