Connect with us

Teknologi

Beberapa Startup di Indonesia yang Pernah Terkenal, Namun Saat ini Tutup dan Bangkrut

Published

on

REPORTASE INDONESIA – jakarta, Punya nama yang cukup dikenal bukan berarti startup jauh dari kata bangkrut. Ini terjadi di beberapa startup, seperti Fabelio.com, Airy Room, JD.ID dan lainnya.

Ketiga nama tersebut menjadi contoh beberapa startup terkenal yang mengalami kebangkrutan dan terpaksa harus tutup gulung tikar.

Alasannya pun bermacam-macam salah satunya keadaan pasar yang nyaris tumbang akibat pandemi Covid-19.

Berikut ini daftar beberapa startup terkenal yang akhirnya bangkrut:

1. Fabelio

Fabelio.com, startup desain furnitur dan interior, dinyatakan pailit. Hal ini diketahui dari pengumuman di surat kabar berdasarkan putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No.47/Pdt.Sus-PKPU/2022/PN.Niaga.JKT.PST, tertanggal 5 Oktober 2022, yang mengabulkan putusan pailit terhadap PT. Kayu Raya Indonesia atau Fabelio.

Sementara itu akhir tahun 2021, Fabelo dikabarkan tidak membayar tunggakan gaji karyawan sejak bulan Oktober. Perusahaan juga dituding belum membayar BPJS Ketenagakerjaan karyawan sejak 2020 namun tetap memotong dana dari gaji mereka dan memaksa pegawai mengundurkan diri dengan menggunakan anggota organisasi massa tertentu serta tidak mampu mengembalikan dana pinjaman pada pihak ketiga yang nilainya milyaran rupiah.

2 Airy Rooms

Airy Rooms resmi menghentikan operasional tanggal 31 Mei 2020. Penyebabnya adalah adanya keadaan yang berbeda dari sebelum pandemi.

Bisnis hotel aggregator sempat naik daun sebelum pandemi Covid-19 merebak. Para perusahaan bekerja sama dengan pemilik properti dari hotel hingga motel kecil dalam rangka menawarkan tempat menginap seperti yang ditawarkan platform online.

CEO Airy Rooms Indonesia Louis Alfonso Kodoatie mengatakan alasan di balik keputusan menutup bisnisnya karena mempertimbangkan banyak hal. Termasuk keadaan pasar yang nyaris tumbang akibat pandemi Covid-19.

3. JD.ID

JD.ID resmi menutup seluruh layanannya per 31 Maret 2023. Hal ini pertama kali diketahui dari laman resmi JD.ID. Saat itu, ketika membuka layanan e-commerce tersebut, terpampang pengumuman penting ini untuk diketahui pelanggan.

“Ini adalah keputusan strategis dari JD.COM untuk berkembang di pasar internasional dengan fokus pada pembangunan jaringan rantai pasok lintas-negara, dengan logistik dan pergudangan sebagai intinya,” kata Head of Corporate Communications & Public Affairs JD.ID, Setya Yudha Indraswara dalam keterangannya saat itu.

Setya mengonfirmasi penutupan layanan pada 31 Maret 2023. Sementara itu dalam laman resminya, JD.ID akan menyetop penerimaan pesanan per 15 Februari 2023.

4. Sorabel

Sorabel resmi tutup pada 30 Juli 2020 lalu. Surat pemimpin kepada karyawannya, menyatakan startup e-commerce itu telah melakukan usaha terbaik untuk menyelamatkan perusahaan. Namun dengan berat hati harus menempuh jalur likuidasi.

“Oleh karena proses likuidasi yang ditempuh, hubungan kerja harus berakhir di tahap ini untuk semua orang tanpa terkecuali, tepatnya efektif di tanggal 30 Juli 2020. Saya yakin tidak ada satunya pun orang yang berharap hal ini untuk terjadi,” tulis surat tersebut.

Kabarnya, Sorabel harus berhenti beroperasi karena kehabisan modal dan kesulitan menggalang pendanaan baru di tengah pandemi.

5. Stoqo

Stoqo juga menutup layanannya pada pada 2020. Startup ini menjalankan usaha business to busines, yang bekerja untuk memasok bahan makanan segar seperti cabai, telur hingga ampas kopi ke gerai makanan, atau restoran.

Pandemi-lah yang merusak bisnis itu. Per tanggal 22 April 2020 jadi hari terakhir Stoqo berakhir. Sehari sebelumnya, manajemen telah mengumpulkan karyawan yang mengabarkan penghentian operasional Stoqo.

Sekitar 250 orang dipekerjakan sejak Stoqo berdiri. Startup ini juga didanai sejumlah investor termasuk Alpha JWC Ventures, Mitra Accel, Insignia Ventures Partners dan Monk’s Hill Ventures.

6. Qlapa

Tutupnya Qlapa berbeda dengan dua startup sebelumnya, sebab tidak terkait pandemi. Ditutup pada 2019, perusahaan ini tidak mampu bersaing bersaing dengan e-commerce lain seperti Tokopedia dan Bukalapak Cs.

“Hampir 4 tahun yang lalu, kami memulai Qlapa dengan misi memberdayakan perajin lokal. Banyak pasang surut yang kami alami dalam perjalanan yang luar biasa ini. Kami sangat berterima kasih atas semua tanggapan positif dari para penjual, pelanggan, dan media. Dukungan yang kami terima sangat luar biasa dan membesarkan hati,” tulis manajemen Qlapa merilis pernyataan di situs resminya.

7. CoHive

CoHive, startup penyedia ruang kerja berbagi (co-working space), diputus pailit oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Keputusan pailit tersebut berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Register No: 231/Pdt.Sus-PKPU/2022/PN.Jkt.Pst, tertanggal 18 Januari 2023

CoHive didirikan pada 2015 sebagai proyek internal perusahaan modal ventura East Ventures yang diberi nama EV Hive sebagai lokasi kerja bersama dan komunitas untuk perusahaan rintisan, baik portofolio mereka maupun bukan. EV Hive punya dua lokasi ruang kerja, yaitu di Jakarta Selatan dan BSD.

Pada 2017, proyek tersebut diambil alih oleh Jason Lee, Carlson Lau, dan Ethan Choi yang mengganti namanya menjadi Cocowork yang kemudian diganti lagi menjadi CoHive.

Setelah beralih kepemilikan dan meraih pendanaan seri B antara lain dari Insignia Ventures, CoHive berubah fokus dan berekspansi secara agresif di banyak lokasi dan kota.

Per Desember 2020, CoHive menyatakan mengoperasikan 30 lokasi dengan total luas area mencapai 60.000 meter persegi di Jakarta, Medan, Yogyakarta, dan Surabaya.

Yang jadi pertanyaannya saat ini, mengapa mereka tak mampu bertahan? (tw)

Teknologi

Cara Langganan Internet Starlink di RI, Ini Kisaran Harganya

Published

on

REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Starlink akan masuk ke Indonesia dalam waktu dekat. Hal ini diungkap Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) beberapa saat lalu.

Perusahaan milik Elon Musk tersebut akan menggandeng perusahaan lokal untuk beroperasi di Indonesia. Starlink mengajukan dua izin, yakni sebagai penyedia VSAT dan internet bagi masyarakat.

Starlink Indonesia berbeda dengan Starlink yang berbasis di Amerika Serikat. Starlink Indonesia membeli perangkat stasiun bumi dan akses internet ke Starlink.

Kemudian, perangkat dan akses internet tersebut digunakan untuk menyediakan layanan internet kepada pengguna di RI.

Situs Starlink Indonesia sudah mengudara. Bahkan, sudah dipampang harga berlangganan dan produk yang ditawarkan.

Harga langganan untuk paket ‘Standar’ yang disebut cocok untuk keluarga adalah Rp 750.000 per bulan. Paketnya mencakup kuota tanpa batas. Fitur utamanya disebut memberikan internet berkecepatan tinggi dan latensi rendah tanpa batas.

Namun, belum ada informasi terkait kecepatan download/upload yang disediakan Starlink Indonesia.

Selain harga langganan bulanan, pengguna juga membutuhkan perangkat keras ‘Standar Teraktuasi’ yang direkomendasikan Starlink Indonesia. Harganya dipatok Rp 7.800.000. Adapula deposito senilai harga satu bulan langganan, yakni Rp 750.000.

Dalam laman Starlink Indonesia, pelanggan bisa memilih apakah membutuhkan layanan internet untuk pribadi atau bisnis. Namun, belum diungkap harga paket untuk bisnis.

Selain itu, Starlink Indonesia juga menyediakan uji coba selama 30 hari. Jika pelanggan tak puas, bisa mendapatkan pengembalian dana penuh.

Saat ini, layanan Starlink Indonesia belum tersedia. Namun, Anda bisa mendaftarkan email di laman depan untuk diberi notifikasi ketersediaan Starlink Indonesia.

Selain itu, pemesanan juga bisa dilakukan di laman resmi Starlink Indonesia.

  • Isi kolom alamat ke ‘Indonesia’ di laman Starlink Indonesia.
  • Klik ‘Pesan Sekarang’.
  • Isi ‘Informasi Kontak’ berupa nama dan nomor telepon, serta ‘Alamat Pengiriman’.
  • Klik ‘Melakukan Pemesanan’.

Selain harga langganan bulanan dan perangkat keras, Anda juga harus membayar biaya pengiriman dan penanganan. Nominalnya sesuai dengan alamat yang dimasukkan. (tw)

Continue Reading

Teknologi

Cara Baru Penipu Kuras Rekening Pakai Kode QR, Ini Cara Antisipasinya

Published

on

REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Seiring berjalannya waktu, modus penipuan di Indonesia semakin beragam dan “dekat” dengan aktivitas masyarakat sehari-hari. Terbaru, kasus penipuan mulai menggunakan modus QR Code saat transaksi.

Metode yang bernama “quishing” ini menggunakan QR Code untuk bertransaksi dan dapat menguras rekening para korban melalui kode tersebut. Sebagai informasi, quishing merupakan gabungan dari kode QR dan phishing. Pelaku akan memancing korbannya agar mendapatkan informasi dan detail pribadi mereka.

Saat memindai QR Code, biasanya korban akan dibawa ke situs tertentu. Selain bisa menunjukkan pesan teks biasa, situs tersebut bisa melacak daftar aplikasi hingga alamat peta korban.

Pelaku memanfaatkan kemampuan tersebut untuk mengarahkan calon korbannya ke situs web palsu. Mereka akan membuat orang sulit mendeteksi situs yang akan dikunjungi sebelum membuka web.

Wired menyebut bahwa pelaku quishing akan mengelabui seseorang untuk mengunduh sesuatu ke dalam perangkat. Unduhan tersebut akan membahayakan perangkat milik korban.

Langkah berikutnya, para korban akan diminta memasukkan beberapa kredensial login. Informasi itu akan didapatkan oleh pelaku quishing.

Kejahatan ini semakin masif karena kode QR bisa dibuat dengan mudah dan siapa saja. Seseorang bisa membuatnya bahkan tanpa keahlian khusus.

Namun ada cara untuk menghindari kejahatan quishing. Utamanya adalah jangan percaya QR code yang dipasang di tempat umum atau diberikan pada orang yang tidak jelas dari mana asalnya.

Anda juga bisa mengenali QR code dengan tujuan kejahatan. Karena biasanya penipu akan meningkatkan rasa urgensi dan kekhawatiran calon korbannya, misalnya dengan menyertakan pernyataan “Pindai kode QR ini untuk memverifikasi identitas Anda atau mencegah penghapusan akun Anda”.

Terakhir, jangan lupa mengaktifkan autentikasi dua faktor pada tiap akun. Selain itu, jangan lupa untuk keluar dari perangkat yang tidak digunakan lagi. (tri)

Continue Reading

Teknologi

Sertifikasi ISO 41001:2018 untuk Mewujudkan Efisiensi pada Perusahaan ataupun Organisasi

Published

on

REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Memperoleh sertifikasi ISO bagi Manajemen Fasilitas pada sebuah perusahaan adalah cara untuk memberdayakan profesional Facilities Management. Mengingat lanskap yang sangat dinamis dan selalu berkembang, termasuk teknologi dan ESG, standar ISO sangat penting bagi manajer fasilitas dan manajemen fasilitas.

Hal tersebut penting agar memberikan kerangka kerja praktik terbaik untuk menjaga dan mengoperasikan fasilitas secara efektif.

Standarisasi ini menjamin konsistensi, kualitas, dan keamanan dalam area penting seperti efisiensi energi, keberlanjutan lingkungan, kesehatan, dan keselamatan.

Christina Ng, Head of Facilities Management mengatakan bahwa โ€œMeskipun peran Manajemen Fasilitas dalam perusahaan semakin diakui, tim Facilities Management Colliers Indonesia menyadari bahwa masih banyak perusahaan yang belum memperoleh sertifikasi, termasuk ISO 41001:2018, untuk tim Manajemen Fasilitas mereka.โ€

ISO 41001 berfungsi sebagai standar Facility Management (FM), yang dirancang untuk membantu organisasi atau perusahaan dalam menetapkan, melaksanakan, menjaga, dan meningkatkan program kepatuhan Manajemen Fasilitas yang terintegrasi.

Adanya penerapan sistem ISO 41001, organisasi atau perusahaan dapat mewujudkan efisiensi dalam bentuk sebagai berikut:

-. Menentukan arah tim FM agar sejalan dengan kebutuhan, visi, dan misi perusahaan.

-. Memetakan risiko dan mengidentifikasi peluang perbaikan untuk menghindari biaya yang lebih tinggi terkait aspek bahaya atau risiko.

-. Meningkatkan kualitas layanan melalui kriteria tenaga kerja dan meningkatkan kinerja tim.

-. Mengorganisir dokumentasi lebih efektif. Menerapkan KPI yang sesuai dapat membantu organisasi mengukur aspek yang perlu diperbaiki. Hal tersebut guna mencapai efisiensi yang lebih baik. (utw)

Continue Reading
Advertisement

Trending