Connect with us

Gayahidup

Fenomena ‘Ghost Rich’

Published

on

Fenomena 'Ghost Rich'

REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Fenomena “Ghost Rich” kini ramai diperbincangkan. Di ruang publik, muncul generasi anak muda yang tampak seperti tidak bekerja—tanpa kantor, tanpa seragam, tanpa jam masuk, namun gaya hidupnya stabil, bahkan naik kelas.

Mereka hadir di kafe siang hari, aktif di dunia digital, dan seolah hidupnya terus berjalan tanpa struktur kerja konvensional yang selama ini dikenal masyarakat.

Di balik itu, pekerjaan mereka sering kali tak kasat mata. Penghasilan datang dari atensi: konten digital, afiliasi, trading, freelance global, hingga bisnis berbasis platform.

Kantor berpindah ke layar ponsel, jam kerja menjadi fleksibel, dan batas antara bekerja serta hidup sehari-hari semakin kabur. Inilah wajah baru ekonomi digital, di mana nilai tidak lagi bertumpu pada tenaga fisik, melainkan kemampuan mengelola perhatian dan peluang.

Namun, para ekonom mengingatkan sisi rapuh dari fenomena ini. Banyak penghasilan digital tidak memiliki kepastian jangka panjang, minim perlindungan sosial, dan sangat bergantung pada algoritma atau tren sesaat.

Ketika pasar berubah atau atensi bergeser, sumber pendapatan bisa hilang seketika. Inilah yang membuat sebagian pakar menyebut Ghost Rich sebagai “bom waktu” dalam struktur ekonomi kelas menengah baru.

Salah satu Contoh Ferry Irwandi

Setelah mendengar pengakuan Ferry Irwandi, kalau salah satu alasan ia mengundurkan diri dari kementrian keuangan di tahun 2022 dulu itu adalah, karena ia ‘kaya mendadak’ (bahasa sederhananya).

Jadi begini, tahun 2012 Ferry membeli bitcoin yang lekat dengan nama Timothy Ronald itu lho. Ferry membeli 400 bithcoin yang saat itu harganya sekitar 6-7 dol4r. Tak disangka di tahun 2021, harga bitcointu melonjak jadi 68000US$. Bayangin, kelipatan berapa tuh. Jadi dulu dia beli sekitar 25jt, di tahun 2021 melonjak hampir 600M(koreksi kalau salah)

Di situlah keberuntungan seorang Ferry Irwandi yang tak dieskpos sama sesekali

Ia tak flexing seperti Timothy dan Ghost Rich lainnya, dia fokus mengembangkan kemampuannya di bidang digital, menyalurkan argumennya lewat cara-cara cerdassssss.

Fenomena ini bukan sepenuhnya buruk, namun juga bukan tanpa risiko. Ia menjadi cermin perubahan zaman tentang bagaimana definisi kerja, kaya, dan stabilitas sedang bergeser.

Tantangannya kini ada pada kesiapan individu dan negara: membangun literasi finansial, perlindungan sosial, serta sistem yang mampu mengakomodasi realitas kerja baru, agar kelas menengah digital tidak tumbuh rapuh di tengah gemerlap ilusi kesejahteraan. (tri)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement