Connect with us

Internasional

IDF Teroris Alami Masalah Besar Saat Gencatan Senjata: Prajurit Israel Berkurang, Suporter Hamas Bertambah

Published

on

REPORTASE INDONESIA -Gaza, Media Israel, Kan, menyatakan dalam laporannya, dari sudut pandang praktis, tentara Israel telah kalah dalam operasi militer mereka di Gaza.

Hal itu terkait kesepakatan gencatan senjata yang berada dalam alur kendali Hamas, milisi yang menjadi target utama mereka dalam bombardemen Gaza yang memantik amarah dunia Internasional.

Laporan Kan juga menambahkan, ada masalah yang sedang dihadapi pasukan Israel di Gaza selama gencatan senjata.

“Reorganisasi militer Israel di Gaza masih dalam tahap pembangunan dan peraturannya (garis komando) belum sepenuhnya jelas,” tulis laporan tersebut.

Media mencatat kalau tidak akan ada sebanyak 12.000 tentara Israel yang tersisa di Gaza, karena jumlah ini akan dikurangi oleh IDF terkait pengeluaran besar perang.Suporter Hamas Justru bertambah.

Laporan tersebut juga menyebutkan kalau pasukan pendudukan Israel berupaya mencegah pergerakan warga Palestina dari bagian selatan Jalur Gaza ke utara saat gencatan senjata dimulai.

“Seluruh unit yang bekerja dalam misi ini, menunjukkan bahwa “jelas bahwa mereka tidak akan berhasil dalam mencapai tujuan mereka untuk menghentikan semua gerakan ini,” tulis laporan Kan.

Ulasan ini menyandarkan pada asumsi kalau kembalinya warga Gaza dari selatan ke utara akan memperkuat barisan organisasi Hamas.

Sejumlah warga mengikuti aksi damai untuk Palestina di GDC, Depok, Jawa Barat, Minggu (26/11/2023).

Mereka yang kembali, diasumsikan, meninggalkan keluarga -anak dan istri- mereka tetap di Selatan, sementara warga Gaza yang kembali ke Utara datang untuk menengok rumah dan kondisi yang ada; berpotensi siap perang dan bergabung dengan Hamas.

Hal ini menjelaskan mengapa IDF menembaki warga Palestina yang kembali ke Gaza saat periode gencatan sejata. 

Berbondong-bondongnya warga Gaza ini, diulas Kan, sebagai kegagalan upaya Israel untuk merelokasi mereka ke lokasi lain.

Tentara Israel sebelumnya memang membagi Gaza menjadi dua bagian, Utara dan Selatan dalam upaya melokalisir perlawanan Hamas. Nyatanya, upaya itu gagal dan disebutkan sebagai harga yang mahal dari kesepakatan gencatan senjata yang terjadi.

“Jelas bahwa Hamas akan mencoba menghancurkan apa yang telah dilakukan tentara Israel sejauh ini, dan Israel telah mempertimbangkan hal ini dan menyadari bahwa ada harga yang harus dibayar untuk gencatan senjata,” tulis laporan Kan.

Media Israel melaporkan kalau Hamas masih menguasai Gaza 49 hari setelah agresi tentara Israel (IDF) di Jalur Gaza.

Laporan Channel 12 menambahkan, kalau gencatan senjata itu adalah hal yang bermanfaat bagi milisi perlawanan Palestina.

“Siapa pun yang berduka atas Hamas harus melihat hari ini; setelah 49 hari pertempuran “Hamas telah membuktikan bahwa mereka tetap kuat dan menguasai Gaza,” tulis laporan media Israel itu pada Jumat (24/11/2023).

Laporan tersebut mengulas bagaimana Brigade Al-Qassam berhasil memberlakukan gencatan senjata di selatan dan utara Jalur Gaza.

Ulasan Media Israel juga menunjukkan kalau sayap bersenjata Hamas tahu bagaimana dan kapan harus membawa para tahanan dan sandera ke Rumah Sakit Khan Yunis.

“Hamas tidak bertekuk lutut menghadapi gempuran pasukan pendudukan Israel,” kata media Israel.Hamas Gendong Sandera, Warga Israel Merasa Dikhianati IDF

Laporan itu merujuk pada perlakukan milisi perlawanan Palestina terhadap para sandera yang mereka sebut sebagai ‘hal masih terlalu tidak masuk akal’.

Hamas dan sejumlah milisi perlawanan di Gaza menyebut, memperlakukan sandera secara baik, merawat mereka sampai pertukaran benar-benar terjadi, sebuah hal yang sebaliknya justru dilakukan oleh tentara Israel. (tw)

Internasional

Tentara Israel Sengaja Tembaki Warga Palestina Saat Kumpulkan Bantuan di Gaza

Published

on

REPORTASE INDONESIA – Gaza, Tentara Israel sengaja menembaki warga Palestina yang mengumpulkan bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza pada Jumat (5/4), dirilis lembaga penyiaran berita internasional Al Jazeera.

Video tersebut memperlihatkan tentara Israel sengaja menembak berkali-kali ke arah salah satu pemuda yang mengumpulkan bantuan.

Usai terkena tembakan, pemuda Palestina itu kehilangan keseimbangan lalu terjatuh, bangkit dan kehilangan keseimbangan lagi.

Saat pemuda itu berusaha bergerak perlahan menjauh ke arah yang berlawanan dari tentara dan kendaraan Israel, tembakan terus menghujaninya, menyebabkan dia terkapar lagi.

Rekaman berdurasi tiga menit ini mendokumentasikan apa yang disebut PBB sebagai tragedi buatan manusia di Gaza. (tw)

Continue Reading

Internasional

HAMAS Tidak Akan Pernah Menyerah Pada Zionist Teroris Israel dengan Syarat Apapun!

Published

on

REPORTASE INDONESIA – Gaza, Pemimpin senior Hamas yang berbasis di Beirut, Lebanon, Osama Hamdan, di tengah perang genosida yang dilancarkan Israel di Jalur Gaza menyatakan pihaknya tidak akan menyerah pada rezim zionis dengan syarat apa pun.

Menurut Hamdan, rezim Israel tidak mampu membebaskan satu pun tahanan sejak awal perang dan karena itu segala upaya rezim itu bisa dikatakan tidak membuahkan hasil.

Hamdan juga menolak klaim soal terbunuhnya wakil komandan militer Hamas, Marwan Issa.

“Pembunuhan para pemimpin tidak akan melemahkan perlawanan Hamas, katanya di Gaza (28/3/2024).

Ia menambahkan bahwa pernyataan Gedung Putih kantor presiden Amerika Serikat mengenai Marwan Issa mengindikasikan keterlibatan AS dalam genosida di Gaza. (utw)

Continue Reading

Internasional

PRCS: Tiap Hari Sekitar 37.000 Ibu Tewas di Gaza-Palestina Akibat Serangan Zionist Israel

Published

on

REPORTASE INDONESIA – Gaza, Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS) pada Kamis (21/3/2024) mengungkapkan sekitar 37 ibu Palestina terbunuh setiap harinya di Jalur Gaza, sehingga menyebabkan keluarga mereka hancur dan anak-anak kehilangan perlindungan.

Sementara itu, sekitar 31.988 orang tewas dan 74.188 orang lainnya terluka sejak awal agresi Israel 7 Oktober 2023. Sebagian besar dari para korban itu adalah anak-anak dan perempuan. (tri)

Continue Reading
Advertisement

Trending