Ekonomi
IKN yang Dibiarkan Hidup, Tapi Tak Diberi Masa Depan
REPORTASE INDONESIA – Kaltim, Jika bicara jujur tanpa basa-basi politik, persoalan IKN hari ini bukan soal “lanjut atau batal”. Masalahnya jauh lebih subtil dan, justru karena itu, jauh lebih kejam. IKN tidak dimatikan. Ia dibiarkan hidup, tapi tanpa cukup oksigen untuk benar-benar bernapas. Secara administratif ia masih ada. Secara hukum belum dicoret. Secara pidato masih disebut. Tapi secara nyata, denyut hidupnya melemah hari demi hari.
Ini bukan kebijakan setengah matang, Ini pola kekuasaan yang sangat sadar diri.
Pengurangan anggaran yang drastis bukan sekadar penyesuaian fiskal. Itu bahasa politik. Negara sedang berkata dengan nada datar: kami tidak membatalkan, tapi juga tidak menjadikan ini masa depan. Dana yang dulu puluhan triliun kini tinggal cukup untuk merawat bangunan yang sudah berdiri—bukan untuk melahirkan kota hidup. Artinya jelas: yang ada dijaga agar tidak roboh, bukan dibesarkan agar berkembang.
IKN sejak awal memang bukan proyek netral. Ia adalah simbol. Ia adalah monumen ambisi politik era sebelumnya. Selama IKN tumbuh dan menjadi pusat, nama Joko Widodo ikut tertanam di dalamnya. Dan di dunia kekuasaan, simbol sebesar itu bukan aset bersama—ia adalah bayangan. Presiden baru, siapa pun dia, akan selalu diukur dengan simbol tersebut. Maka wajar jika simbol itu tidak dirusak secara frontal, tapi dilemahkan secara perlahan.
Prabowo Subianto paham betul permainan ini
Mengubur IKN secara terbuka hanya akan memicu kegaduhan: konflik politik, kemarahan pendukung lama, dan narasi kegagalan nasional. Terlalu mahal ongkosnya. Maka dipilihlah cara yang lebih senyap: biarkan proyek tetap ada, tapi lepaskan dari status prioritas. Tidak nol, tapi tidak cukup. Tidak mati, tapi tidak hidup.
Ketidakpastian status ibu kota menjadi senjata berikutnya. Jakarta tidak benar-benar ditinggalkan, Nusantara tidak benar-benar diresmikan. ASN ragu melangkah. Investor menahan napas. Dunia internasional menunggu. Dalam politik, keraguan adalah bentuk kelumpuhan. Dan proyek yang lumpuh tidak perlu dibatalkan—ia akan runtuh sendiri oleh waktu.
Apakah IKN akan Dihambalangkan?
IKN hari ini mirip bangunan megah yang lampunya menyala, tapi tidak ada penghuni. Secara visual mengesankan, secara fungsi kosong. Dan kekosongan seperti ini jauh lebih berbahaya daripada kegagalan terbuka. Kegagalan masih bisa dijelaskan. Kekosongan hanya meninggalkan tanya dan kecurigaan.
Sementara itu, arah anggaran mulai berpindah. Program-program baru dikedepankan—yang identitasnya lekat dengan presiden baru. Makan gratis, ketahanan pangan, agenda populis lainnya. Ini bukan sekadar kebijakan sosial. Ini penanda era. Pesannya sederhana dan tegas: ini bab baru, dengan simbol baru. Yang lama tidak diserang, tapi juga tidak dipelihara.
Masalahnya, strategi senyap seperti ini punya risiko besar. Publik Indonesia tidak menyukai ketidakjelasan. Di saat ekonomi menekan, harga naik, dan lapangan kerja sulit, keberadaan kota mahal yang setengah hidup di tengah hutan bisa berubah dari simbol visi menjadi simbol ironi. Dari kebanggaan menjadi sumber kemarahan.
IKN bisa saja kelak dikenang bukan sebagai kegagalan teknis, tapi sebagai monumen tarik-menarik ego elite. Satu elite terlalu percaya diri meninggalkan warisan raksasa. Elite berikutnya terlalu dingin untuk merawatnya. Dan rakyat? Mereka hanya kebagian kebingungan.
Semua ini juga membongkar satu kenyataan pahit: transisi kekuasaan yang disebut-sebut mulus ternyata penuh jarak. Yang terjadi bukan kesinambungan, melainkan pelepasan perlahan. Bukan putus dengan konflik, tapi dengan pengabaian. Seperti hubungan yang tidak diakhiri dengan pertengkaran, melainkan dengan diam yang berkepanjangan.
Pada akhirnya, IKN hari ini adalah cermin. Bukan hanya tentang pembangunan, tapi tentang cara kekuasaan bekerja di negeri ini. Ia tidak selalu datang dengan palu penghancur. Kadang ia datang dengan cara lebih tenang: membiarkan sesuatu tetap berdiri, tapi tanpa masa depan.
Dan dalam politik, hukuman paling kejam memang bukan penghancuran terbuka. Melainkan membiarkan sesuatu hidup, sambil memastikan ia tidak pernah benar-benar tumbuh lagi. (ut)
