Connect with us

Internasional

Jumlah Warga Palestina yang Tewas di Gaza Lebih dari 21 Ribu Jiwa

Published

on

REPORTASE INDONESIA – Gaza, Jumlah warga Palestina yang tewas akibat serangan Israel di Jalur Gaza melampaui 21.000 orang, kata Kementerian Kesehatan yang berbasis di Gaza, Rabu (27/12).

Juru Bicara Kementerian Kesehatan yang berbasis di Gaza, Ashraf al-Qidra, dalam konferensi pers, mengungkapkan bahwa jumlah korban akibat serangan Israel di Jalur Gaza kini telah meningkat menjadi 21.110 orang tewas dan 55.243 orang lainnya luka-luka.

Dalam 24 jam terakhir, dia mengatakan sebanyak 195 orang tewas, sementara 325 lainnya terluka dan dilarikan ke rumah sakit.

Sementara itu, Perdana Menteri Palestina Mohammed Shtayyeh mengatakan Pemerintah Palestina di Ramallah dalam pertemuan mingguan telah memutuskan “untuk membatalkan semua perayaan malam tahun baru, dan akan terjadi demonstrasi kemarahan terhadap kejahatan okupasi.” (tw)

Internasional

Pemimpin Amerika Latin Serentak Kecam Genosida dan Tuduh AS, Inggris serta Uni Eropa yang Dukung Serangan Israel ke Warga Gaza

Published

on

REPORTASE INDONESIA – Brazil, Sejumlah pemimpin negara-negara Amerika Latin pada Jumat (1/3) serentak mengecam agresi militer Israel di Jalur Gaza dalam Konferensi Tingkat Tinggi Komunitas Negara Amerika Latin dan Karibia (Celac) ke-8 yang digelar di Saint Vincent dan Grenadines.

Sementara itu, Presiden Brazil Luiz Inacio Lula da Silva mengusulkan Celac menerbitkan resolusi untuk mendesak pengakhiran segera genosida di Jalur Gaza.

“Tragedi kemanusiaan di Gaza menuntut kita untuk menghentikan hukuman kolektif yang ditimpakan Israel kepada rakyat Palestina,” ucap Lula di Brazil, (1/3/2024).

Presiden Venezuela Nicolas Maduro juga mengecam pengadilan internasional yang ia anggap tidak efektif menghentikan pembantaian yang terjadi di Jalur Gaza.

Para Pemimpin Amerika Latin ini saja yang mempunyai keyakinan berbeda dengan Umat muslim, mau bergerak dan bertindak untuk membantu Palestina, bagaimana dengan negara-negqra di Timur Tengah seperti UEA dan Arab Saudi? (tw)

Continue Reading

Internasional

Contract Farming di Thailand Hasilkan Beras Melimpah, Sempat Jadi Program Anies

Published

on

REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Contract farming yang dijalankan di Thailand mengemuka setelah negara tersebut berhasil menjadi salah satu pemain utama produksi beras dunia.

Di sisi lain Indonesia yang dicap sebagai negara agraris justru kelimpungan memenuhi kebutuhan pasokan beras dalam negeri. Pemerintah justru berencana melakukan impor beras dari Negeri Gajah Putih itu. 

Melansir laporan Asian Development Bank, sistem contract farming yang dijalankan Thailand merupakan sarana untuk membantu petani kecil dalam mendapatkan akses pasar dan mengurangi risiko harga. Dalam sistem contract farming ini, pemerintah secara ketat mengontrol harga dan kebijakan tenaga kerja pertanian.

Pemerintah membangun lingkungan dan infrastruktur yang mumpuni untuk mendorong investasi di bidang agribisnis dan meningkatkan produktivitas pertanian.

Pemerintah berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani hingga 80 persen. Kebijakan pun mendorong diversifikasi pertanian kendati beras tetap menjadi komoditas utama. Dengan kebijakan ini para petani bisa menanam berbagai tanaman komersial seperti singkong, tebu, dan jagung. Kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau juga ditanam di lahan kering.

Contract framing mulai dipromosikan sejak Rencana Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional keempat (1977 – 1981). Kebijakan untuk ekspor nilai tambah dipromosikan dan agroindustri tumbuh pesat, terutama pada ikan kaleng, nanas, dan produk tomat. Kemudian rencana ke-6 mempromosikan integrasi pertanian dan pengolahan dan ekspor bernilai tambah tinggi.

Dibandingkan dengan yang lain Negara-negara Asia, pada awal 1990 Thailand mungkin memiliki pengalaman paling luas dengan contract farming dan jangkauan tanaman terluas.

Pada pertengahan Rencana ke-7, nilai ekspor produk agroindustri telah mencapai 82.000 juta Baht dan tumbuh menjadi 247.000 juta pada tahun 2003 (Departemen Pertanian dan Koperasi 2004) dan mencapai 303.069 juta Baht pada tahun 2006. 

Di sektor pengolahan buah dan sayuran dan unggas di mana kontrak produksi sangat luas, tingkat pertumbuhan selama 2005-2006 mempertahankan tingkat tinggi 11,1% dan 8% masing-masing (Departemen Pertanian dan Koperasi 2007).

Contract farming telah berperan penting dalam memberikan petani akses ke rantai pasokan dengan stabilitas pasar dan harga, serta bantuan teknis. 

Kebijakan khusus juga diterapkan untuk petani miskin. Bekerja sama dengan perusahaan swasta, para petani sering mendapatkan kredit dari perusahaan.

Timbal baliknya, perusahaan mengharapkan pengiriman barang dalam jumlah tertentu, namun kualitas dan harga telah ditetapkan. Pasar dan kepastian harga bagi kedua belah pihak yakni petani dan perusahaan membuat kualitas produk meningkat dan rantai pasok menjadi lebih efisien.

Lalu bagaimana dengan program Food Estate Jokowi dan prabowo? Bongkar Food Estate yang bermasalah di Kalimantan dan Impor beras ugal-ugalan yang dilakukan Pemerintah! (tw)

Continue Reading

Internasional

Lebih dari 100 Warga Gaza Tewas Diserang Teroris Israel Saat Menunggu Bantuan Kemanusiaan

Published

on

REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Sedikitnya 104 warga Palestina dilaporkan terbunuh dan 760 lainnya cedera ketika tentara Israel menembaki kerumunan warga yang sedang menunggu bantuan kemanusiaan di Kota Gaza bagian selatan, Kamis (29/2).

Sementara itu, pihak Israel mengeklaim sebagian besar korban tewas karena terjatuh akibat berdesak-desakan dalam kerumunan serta tertabrak truk pembawa bantuan.

Militer Israel menyatakan, penyelidikan awal mendapati bahwa beberapa warga Palestina berupaya mendekati titik pos pemeriksaan Israel yang dilewati truk pembawa bantuan.

Untuk menghentikan mereka, pasukan yang berjaga memberi tembakan peringatan dan menembak ke arah kaki warga Palestina yang tidak berhenti berjalan menghampiri pos Israel itu. (tw)

Continue Reading
Advertisement

Trending