Megapolitan
Kerugian Kereta Cepat Whoosh: Pendapatan Tak Cukup untuk Menutupi Bunga Utang
REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Di tengah lesunya daya beli, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) selaku pengelola Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) yang telah berganti nama menjadi kereta Whoosh, mengeklaim adanya lonjakan penumpang. Sudah untung?
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan tak percaya jika KCIC sudah untung dari bisnis kereta Whoosh. “Saya tidak percaya, tahun lalu saja, kondisinya tidak menggembirakan sama sekali. Masih berdarah-darah,” kata Anthony, Jakarta, Minggu (18/5/2025).
Selanjutnya dia membeberkan, biaya investasi untuk proyek kereta cepat yang awalnya disepakati 6,02 miliar dolar AS, ternyata membengkak (cost overrun) sebesar 1,2 miliar dolar AS. “Sehingga total biaya investasi Kereta Cepat Jakarta Bandung mencapai 7,22 miliar dolar AS. Ini luar biasa (mahal),” ungkapnya.
Di mana, sebesar 75 persen dari biaya investasi tersebut diperoleh dari duit utang China Development Bank (CDB). Sehingga total utang dari proyek ini mencapai 5,415 miliar dolar AS. Dengan asumsi Rp16.000/dolar AS, utang itu setara Rp81,2 triliun. “Itu belum termasuk biaya untuk bunga utangnya,” ungkap Anthony.
Lalu berapa beban bunganya? Menurut hitungan Anthony, untuk investasi awal sebesar 6,02 miliar dolar AS, dikenai bunga 2 persen per tahun. Sedangkan utang terkait cost overrun dikenakan bunga 3,4 persen per tahun. Sehingga total biaya bunga mencapai 120,9 juta dolar AS, atau hampir Rp2 triliun per tahun.
Di lain sisi, kata Anthony, pendapatan dari penjualan tiket, sangatlah miris. Ambil contoh 2024, terjual 6,06 juta tiket. Dengan asumsi harga tiket rata-rata sebesar Rp250.000, maka total pendapatan kotor kereta Whoosh hanya Rp1,5 triliun. “Itu belum dipotong listrik, perawatan, operasional, perawatan dan lain-lainnya,” kata Anthony.
Pendapatan kereta Whoosh yang minim, bahkan lebih rendah dari biaya bunga yang nyaris Rp2 triliun itu, membuat keuangan KCIC bakal terganggu defisit. Dikhawatirkan, untuk menambal defisit itu, KCIC harus utang lagi dalam jumlah besar.
“Kondisi ini tentu saja sangat bahaya. Tidak sustained. Bak skema ponzi saja. Sampai kapan BUMN konsorsium pihak Indonesia bisa bertahan dari βpendarahanβ ini,” pungkasnya.
Sementara itu, General Manager (GM) Corporate Secretary PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), Eva Chairunisa melaporkan lonjakan penumpang Kereta Whoosh sepanjang libur Lebaran 2025.
Selama masa angkutan mudik dan balik Idul Fitri 1446 Hijriah, tercatat lebih dari 310.000 penumpang menikmati perjalanan dengan kereta Whoosh. Capaian ini mencerminkan tingginya animo masyarakat terhadap moda transportasi modern berkecepatan tinggi itu.
βSelama masa libur Lebaran tahun ini, rata-rata jumlah penumpang harian mencapai 21 ribu, bahkan pernah menyentuh angka lebih dari 23 ribu orang,β jelas Eva, dikutip Minggu (13/4/2025).
Peningkatan tertinggi terjadi pada 6 April 2025, jumlah penumpang kereta Whoosh mencetak rekor baru sebanyak 23.500 penumpang. hari biasa, kereta ini mengangkut penumpang rata-rata sebanyak 16 hingga 18 ribu penumpang per hari.
Untuk menyesuaikan kebutuhan masyarakat selama momen libur panjang, KCIC menambah jumlah perjalanan menjadi 62 kali per hari. “Dengan waktu keberangkatan tiap 30 menit sekali. Jumlah ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yang hanya mencatat 52 perjalanan per hari,” kata Eva. (utw)
