Connect with us

Gayahidup

Keutamaan 10 Hari Pertama di Bulan Dzulhijjah dan Perbanyak Sedekah

Published

on

REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Dari shahabat Ibnu Abbas radhiallahu anhuma dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :

Tidak ada amalan pada hari-hari yang lebih afdhal dari (amalan yang dikerjakan) pada hari-hari ini (10 hari pertama bulan dzulhijjah).” Para sahabat berkata, “Tidak juga jihad?” Beliau menjawab: “Tidak juga jihad. Kecuali seseorang yang keluar dari rumahnya dengan mengorbankan diri dan hartanya (di jalan Allah), lalu dia tidak kembali lagi.”

Hadits Riwayat Al-Bukhari, No. 969.

Dan di 10 malam awal Bulan Dzulhijjah ini perbanyaklah perbuatan amal sedekah agar di ridhoi oleh Allah SWT.

Niat puasa Dzulhijjah
نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ ذِيْ الْحِجَّةِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shouma syahri dzil hijjah sunnatan lillahi ta’ala
Artinya: “Saya niat puasa sunah bulan Dzulhijjah karena Allah Ta’ala.”

𝗠𝗲𝗻𝗴𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻 :
1 Dzulhijjah 1444 = Senin, 19 Juni 2023
2 Dzulhijjah 1444 = Selasa, 20 Juni 2023
3 Dzulhijjah 1444 = Rabu, 21 Juni 2023
4 Dzulhijjah 1444 = Kamis, 22 Juni 2023
5 Dzulhijjah 1444 = Jum’at, 23 Juni 2023
6 Dzulhijjah 1444 = Sabtu, 24 Juni 2023
7 Dzulhijjah 1444 = Ahad, 25 Juni 2023
8 Dzulhijjah 1444 = Senin, 26 Juni 2023
9 Dzulhijjah 1444 = Selasa, 27 Juni 2023 (𝗣𝘂𝗮𝘀𝗮 𝗔𝗿𝗮𝗳𝗮𝗵)
10 Dzulhijjah 1444 = Rabu, 28 Juni 2023 (𝗜𝗱𝘂𝗹 𝗔𝗱𝗵𝗮)

Puasa tanggal 1 Dzulhijah = Allah mengampuni Nabi Adam AS di Arafah, maka yang berpuasa di hari itu akan diampuni dosa-dosanya.

Tanggal 2 Dzulhijjah =
Allah mengabulkan doa Nabi Yunus AS dan mengeluarkannya dari perut ikan nun, maka orang yang berpuasa di hari itu sama seperti beribadah dan berpuasa satu tahun tanpa maksiat.

Puasa tanggal 3 Dzulhijjah = Allah mengabulkan doa Nabi Zakariya AS, maka orang yang berpuasa di hari itu akan dikabulkan doanya.

Puasa tanggal 4 dzulhijjah = Nabi Isa AS dilahirkan, maka orang yang berpuasa di hari itu akan dihilangkan kesusahan dan dikumpulkan bersama orang mulia di hari kiamat.

Tanggal 5 Dzulhijjah
Nabi Musa AS dilahirkan dan dimuliakan munajatnya, maka orang yang berpuasa di hari itu akan terlepas dari sifat munafik dan siksa kubur.

Puasa tanggal 6 Dzulhijjah = Allah membukakan pintu kebaikan semua nabi, maka orang yang berpuasa di hari itu akan dipandang Allah dengan penuh rahmat dan kasih sayang.

Puasa tanggal 7 Dzulhijjah = Pintu neraka jahanam dikunci dan tidak akan dibuka sebelum berakhir pada 10 Dzulhijjah.
Maka orang yang berpuasa di hari itu akan dihindarkan dari 30 pintu kemelaratan dan kesukaran dan dibukakan 30 pintu kemudahan untuknya.

Tanggal 8 Dzulhijjah (Tarwiyah)
Keistimewaan puasa Tarwiyah adalah menghapus dosa yang dibuat tahun lalu.

Tanggal 9 Dzulhijjah (puasa Arofah)
Khusus untuk Puasa Arafah, fadhillahnya adalah mendatangkan kemuliaan bagi yang menjalankannya, antara lain:

  1. Allah akan memberi keberkahan pada kehidupannya.
  2. Bertambah harta.
  3. Dijamin kehidupan rumah tangganya.
  4. Dibersihkan dirinya dari segala dosa dan kesalahan yang telah lalu.
  5. Dilipatgandakan amal dan ibadahnya.
  6. Dimudahkan kematiannya.
  7. Diterangi kuburnya selama di alam Barzah.
  8. Diberatkan timbangan amal baiknya di Padang Mahsyar.
  9. Diselamatkan dari kejatuhan kedudukan di dunia, serta dinaikkan martabatnya di sisi Allah SWT.

Semua keuatamaan puasa di awal bln dzulhijjah.
Semoga kita semua diberi kekuatan dlm menjalankannya. Aamiin.

𝗔𝗺𝗮𝗹𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗮𝗻𝗷𝘂𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝟭𝟬 𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗽𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮 𝗱𝘇𝘂𝗹𝗵𝗶𝗷𝗷𝗮𝗵 : 𝗺𝗲𝗺𝗽𝗲𝗿𝗯𝗮𝗻𝘆𝗮𝗸 𝗽𝘂𝗮𝘀𝗮, 𝗯𝗲𝗿𝗽𝘂𝗮𝘀𝗮 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗔𝗿𝗮𝗳𝗮𝗵, 𝗺𝗲𝗺𝗽𝗲𝗿𝗯𝗮𝗻𝘆𝗮𝗸 𝗮𝗺𝗮𝗹𝗮𝗻 𝘀𝗵𝗮𝗹𝗶𝗵 (𝗺𝗲𝗺𝗯𝗮𝗰𝗮 𝗔𝗹 𝗤𝘂𝗿’𝗮𝗻, 𝗯𝗲𝗿𝗱𝘇𝗶𝗸𝗶𝗿, 𝘀𝗵𝗮𝗹𝗮𝘁-𝘀𝗵𝗮𝗹𝗮𝘁 𝘀𝘂𝗻𝗻𝗮𝗵, 𝘀𝗲𝗱𝗲𝗸𝗮𝗵), 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗸𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗶𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵 𝗵𝗮𝗷𝗶, 𝗺𝗲𝗺𝗽𝗲𝗿𝗯𝗮𝗻𝘆𝗮𝗸 𝗯𝗲𝗿𝘁𝗮𝗵𝗹𝗶𝗹, 𝗯𝗲𝗿𝘁𝗮𝗸𝗯𝗶𝗿 𝗱𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝘁𝗮𝗵𝗺𝗶𝗱, 𝗯𝗲𝗿𝗾𝘂𝗿𝗯𝗮𝗻.

𝗡𝗢𝗧𝗘 :
~ 𝗛𝗮𝗿𝗶 𝗧𝗔𝗦𝗬𝗥𝗜𝗞 11,12,13 Dzulhijjah = tanggal 30 Juni, 1 dan 2 Juli 2023 = DILARANG PUASA

𝗦𝗲𝗯𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗶𝗻𝗳𝗼𝗿𝗺𝗮𝘀𝗶 𝗶𝗻𝗶, karena tiap kali orang yang tahu kemudian mengamalkan amal shalih tersebut maka kita yg memberikan informasi akan mendapatkan sama seperti orang yang mengerjakan amal tersebut. (ut)

Gayahidup

Syarat Orang Berkurban dan Kriterianya Menurut Empat Mazhab

Published

on

REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Jelang, Hari raya Idul Adha identik dengan dua momen penting pelaksanaan ibadah haji dan kurban. Umat Islam disunahkan berkurban saat Idul Adha. Namun, ada syarat yang harus dipenuhi orang berkurban. Apa saja itu?
Muslim yang berkecukupan dan mampu, dianjurkan menunaikan kurban. Namun, sebelum berkurban ada sejumlah ketentuan yang harus dipenuhi. Termasuk syarat orang berkurban dan kriterianya menurut syariat Islam dalam empat mazhab di bawah ini.

Syarat Orang Berkurban
Dilansir dari laman Nahdlatul Ulama (NU) Online, orang yang berkurban harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Berikut syarat-syarat orang yang diperbolehkan menunaikan kurban sesuai syariat Islam.

Beragama Islam.
Merdeka atau bukan budak.
Mukallaf (orang yang sudah dibebankan perintah dan larangan dalam agama).
Balig.
Mampu atau memiliki kelebihan harta yang cukup untuk membeli hewan kurban.
Ketentuan Berkurban
Orang yang berkurban diwajibkan melakukan niat berkurban saat menyembelih. Bagi orang yang berkurban diperbolehkan menyerahkan niatnya kepada orang Islam yang telah berkategori tamyiz, baik dalam status wakil atau bukan.

Orang yang berkurban dibagi menjadi dua jenis, kurban karena nazar dan kurban sunah (bukan karena nazar). Berikut ketentuan umum orang yang hendak berkurban.

Bagi laki-laki, hewan kurban sunah disembelih sendiri karena itba’ (mengikuti anjuran Nabi).
Bagi perempuan, sunah untuk diwakilkan dan sunah baginya menyaksikan penyembelihan yang dilakukan wakilnya.
Sementara ada ketentuan yang juga harus dipenuhi orang yang berkurban bukan karena nazar. Berikut ketentuan bagi orang yang kurban tidak nazar (sunah).

Sunah baginya memakan daging kurban, satu, dua atau tiga suap, karena untuk tabarruk (mencari berkah) dengan udlhiyahnya.
Diperbolehkan baginya memberi makan (ith’am) pada orang kaya yang Islam.

Wajib baginya menyedekahkan daging kurban yang paling afdal adalah menyedekahkan seluruh daging kurban, kecuali yang ia makan untuk kesunahan.

Apabila orang yang berkurban mengumpulkannya untuk dimakan, sedekah, dan menghadiahkan pada orang lain, maka disunahkan baginya agar tidak memakan atas sepertiga bagian tersebut dan tidak sedekah di bawah sepertiganya.

Menyedekahkan kulit hewan kurban atau membuatnya menjadi perabot dan dimanfaatkan untuk orang banyak. Tidak diperbolehkan baginya untuk menjualnya atau menyewakannya.

Kriteria Orang yang Dikatakan Mampu Berkurban
Beberapa ulama memiliki pendapat yang berbeda-beda terkait kriteria orang yang dikatakan mampu berkurban. Berikut kriteria orang yang dikatakan mampu berkurban menurut empat mazhab.

  1. Imam Syafi’i
    Menurut Imam Syafi’i, orang yang mampu berkurban diartikan sebagai orang yang memiliki harta lebih dari cukup untuk membeli hewan kurban pada hari raya Idul Adha. Harta tersebut dimaksudkan tidak mengganggu kebutuhan pokok hidupnya dan orang yang wajib ditanggung.
  2. Imam Abu Hanifah
    Imam Abu Hanifah menyebutkan definisi mampu merupakan orang yang memiliki harta lebih senilai nisabnya harta, yaitu 200 dirham. Harta yang ditujukan untuk kurban tidak mengganggu kebutuhan pokok berupa bahan sandang, pangan, papan, serta kebutuhan orang-orang yang menjadi tanggungannya.
  3. Imam Malik
    Sementara Imam Malik memiliki pendapat yang berbeda, orang yang mampu berkurban merupakan orang yang mempunyai harta lebih, dan harta tersebut saat digunakan untuk membeli hewan kurban tidak mengganggu kebutuhan pokok dalam kurun waktu satu tahun.
  4. Imam Ahmad bin Hambal
    Imam Ahmad bin Hambal mendefinisikan kriteria mampu sebagai orang yang memiliki harta cukup untuk membeli hewan kurban, meskipun dengan cara berutang dan memiliki keyakinan ia mampu mengembalikan utang tersebut.

Itulah penjelasan terkait syarat orang berkurban dan kriterianya menurut empat mazhab. Sebelum berkurban, pastikan mengetahui beberapa ketentuan di atas. (ut)

Continue Reading

Gayahidup

Amalan Bos PO Haryanto Hingga Mempunyai 300 Bus

Published

on

REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Bagi Anda yang suka melakukan perjalanan jauh atau pulang kampung ke Jawa menggunakan bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) akan mengenal PO Haryanto. Bus eksekutif ini hadir pada era pertengahan 2000-an.

PO Haryanto didirikan pada 2002 oleh Haji Haryanto, pria asal Kudus, Jawa Tengah. Usahanya dibangun setelah purnatugas di Batalyon Artileri Pertahanan Udara Ringan 1/Kostrad TNI Angkatan Darat, Tangerang.

Sebagai seorang pekerja keras, saat masih dinas usai bertugas H Haryanto menjadi sopir angkutan kota dari sore hingga subuh. Sampai akhirnya, dia memiliki angkot sendiri.

Setelah melalui berbagai ujian dalam usaha, H Haryanto akhirnya merambah angkutan bus. Dari lima bus terus berkembang hingga puluhan bus, dan sekarang memiliki 300 bus lebih. Sebagai salah satu perusahaan otobus (PO) terbesar, PO Haryanto pun kini memiliki 2.000 karyawan.

Rian Mahendra, putra H Hariyanto sekaligus direktur operasional PO Haryanto menuturkan, usaha sang ayah tidak instan. Banyak lika-liku yang dilalui.

Dia mengatakan sebelum besar seperti sekarang keluarganya sempat jauh dari Tuhan. Ini membuat keluarganya tidak tenteram.

Namun, seiring dengan waktu Haji Haryanto dan keluarga hijrah menjadikan usahanya sebagai ladang ibadah untuk mendapat keberkahan. H Haryanto bahkan menjalankan puasa selama 20 tahun.

“Ini dilakukan H Haryanto dari 2001 sampai sekarang setiap hari. Bapak puasa terus. Kecuali hari raya Idul Fitri dan hari raya Islam lainnya,” kata Rian, dilansir di Channel YouTube Coach Yudi Chandra, (10/6/2024).

Bahkan, Rian mengaku dirinya juga ikut rajin berpuasa. Dia menilai banyak manfaat dari berpuasa selain untuk kesehatan. “Saya bisa ngopi dan rokok setelah puasa,” katanya, sambil tersenyum.

Dia menegaskan, PO Haryanto berkomitmen menjadikan usahanya sebagai ladang ibadah. Walau kondisi perusahaan naik turun, sejak 2002 H Haryanto tetap menyantuni anak yatim piatu yang jumlahnya kini mencapai 5.361 orang. Bahkan, setiap tahun mereka memberangkatkan umrah dan naik haji, serta terus membangun masjid.

Rian pun menekankan karyawan untuk mengutamakan sholat. Termasuk sopir yang bertugas mengantarkan penumpang. (ut)

Continue Reading

Gayahidup

Puasa Dzulhijjah, Amalan yang Penting Sebelum Idul Adha

Published

on

REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Puasa Dzulhijjah merupakan amalan yang penting bagi umat muslim sebelum memasuki Idul Adha atau hari raya kurban.

Dari Abu Bakrah -semoga Allah meridhoinya-, dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- beliau bersabda:

“Sesungguhnya waktu telah berputar sebagaimana mestinya, hal itu ditetapkan pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam setahun ada dua belas bulan, diantaranya ada empat bulan yang mulia. Tiga darinya berturut-turut, yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab yang biasa diagungkan Bani Mudlar yaitu antara Jumadil tsani dan Sya’ban.” (HR.Muttafaq ‘alaihi).

10 PERTAMA DZULHIJJAH, Perbanyaklah Amalan Ini

Youtube (4K): https://youtu.be/7x7crkHOHd8

Di antara nikmat Allah yang agung yang dikaruniakan kepada seorang hamba adalah nikmat dipertemukannya kembali seorang hamba dengan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Maka, sebagai bukti nyata kesyukuran kita atas nikmat tersebut bahkan nikmatNya yang lainnya, di antaranya adalah memperbanyak tahlil, tahmid dan takbir. Inilah dzikir yang disyariatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana sabdanya,

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنْ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

“Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid.” (HR. Ahmad). (tri)

Continue Reading
Advertisement

Trending