Keamanan
Khawatir Kekuatan Disalahgunakan, Pesan Prabowo ke TNI: Jangan Khianati Bangsa dan Rakyat
REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Dalam upacara pemberian kenaikan pangkat istimewa dan tanda kehormatan kepada prajurit aktif dan purnawirawan di atas kapal perang di Teluk Jakarta, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pesan penting kepada Tentara Nasional Indonesia. Dengan nada serius, ia mengingatkan agar kekuatan yang dimiliki TNI tidak disalahgunakan dan agar mereka tidak pernah mengkhianati bangsa, negara, dan rakyat.
Prabowo menekankan bahwa sebagai unsur pertahanan negara, TNI harus selalu setia pada konstitusi dan berfungsi sebagai penjaga keamanan serta kedaulatan bukan sebagai alat kepentingan politik. Baginya, kekuatan militer yang besar memiliki potensi untuk menjadi alat destruktif jika jatuh ke tangan yang salah. Karena itu, pengingat ini ia anggap sangat krusial untuk menghindarkan penyalahgunaan wewenang.
Menurut pengamat komunikasi politik, pengingat seperti ini memang tepat dilakukan karena TNI memiliki tanggung jawab dan sumber daya besar. Kekuatan yang besar bisa digunakan secara konstruktif, namun jika disalahkan atau diarahkan ke kepentingan praktis politik, dampaknya bisa melemahkan sistem demokrasi dan kepercayaan publik.
Pesan Prabowo ikut disoroti sebagai refleksi atas posisi TNI yang melekat erat dengan rakyat. Ia mengingatkan bahwa TNI harus tumbuh bersama rakyat bukan berdiri sebagai kekuatan yang terpisah dari masyarakat. Dalam pandangannya, persatuan dan kedekatan antara militer dan rakyat merupakan landasan agar institusi militer benar-benar menjadi pelindung dan perisai bagi bangsa.
Dalam kata-katanya, Prabowo berharap agar prajurit selalu mengingat asal-usul dan janji setia yang diucapkan dalam sumpahnya. Menurutnya, apabila TNI sampai berkhianat terhadap bangsa, mereka sudah menyimpang dari fungsi luhur yang diamanatkan sebagai penjaga negara.
Merah Putih Robek di Puncak Monas Saat Gladi HUT TNI ke-80, TNI Beri Penjelasan

Momen gladi peringatan HUT ke-80 TNI di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, sempat diwarnai insiden.
Bendera Merah Putih berukuran raksasa yang dikibarkan di puncak Monas robek saat diterpa angin kencang.
Rekaman detik-detik bendera robek itu viral di media sosial dan memicu perhatian publik.
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI (Mar) Freddy Ardianzah angkat bicara terkait peristiwa tersebut.
Menurutnya, insiden itu terjadi pada gladi atau latihan pada Kamis (2/10/2025).
Ia menegaskan, latihan semacam itu memang dilakukan untuk menguji kesiapan, baik personel maupun material yang akan digunakan saat upacara puncak HUT TNI pada 5 Oktober mendatang.
“Saya jelaskan bahwa dalam gladi, kita memang menguji, selain kemampuan prajurit, juga menguji material yang dipakai,” ujar Freddy kepada wartawan seusai gladi bersih di Monas, Jumat (3/10/2025).
Freddy mengatakan, bendera yang robek itu tidak mampu menahan hembusan angin kencang.
Saat kejadian, angin di sekitar puncak Monas dilaporkan bertiup di atas 20 knot atau sekitar 37 kilometer per jam.
“Pada saat kemarin, angin di atas 20 knot. Itu cukup kencang. Diduga bahan kain yang digunakan kurang kuat, sehingga robek,” jelasnya.
Meski demikian, Freddy menilai insiden itu memberikan pelajaran penting. TNI, kata dia, jadi mengetahui bahan bendera yang lebih tepat agar tak terjadi kendala serupa saat upacara resmi.
“Berkat latihan itu, kita jadi tahu batas kemampuan material yang dipakai. Ada sedikit miss, tetapi bisa segera diperbaiki,” ungkapnya.
Dalam gladi bersih yang digelar sehari setelah insiden, prajurit TNI kembali mengibarkan Merah Putih raksasa di puncak Monas. Kali ini, bendera berkibar dengan baik tanpa kendala.
“Alhamdulillah, di gladi bersih hari ini berjalan lancar. Merah Putih bisa berkibar dengan sempurna,” kata Freddy.
Puncak peringatan HUT ke-80 TNI akan digelar Minggu, 5 Oktober 2025, di Monas Jakarta. (tw)
