Nusantara
Kisah Warga Selo Boyolali, Ketika Bertani Lebih Bermartabat Daripada Menjual Pulau dan Alam
REPORTASE INDONESIA – Boyolali, SELO, Masih ada masyarakat yg suka bertani Di tengah derasnya arus pembangunan dan gempuran investasi pariwisata, ada satu wilayah di lereng Gunung Merbabu yang tetap teguh pada akar tradisinya. Kecamatan Selo, Boyolali, bukan hanya menawarkan pemandangan alam yang memukau, tapi juga keteguhan hati warganya dalam menjaga tanah, budaya, dan pilihan hidup mereka: bertani.
Setiap musim kemarau tiba, para petani di Kecamatan Selo tidak bisa serta-merta mengganti tanaman seperti petani di daerah lain. Kondisi tanah dan cuaca hanya memungkinkan satu jenis tanaman yang bisa bertahan: tembakau. Bagi mereka, tembakau bukan hanya tanaman musiman, ia adalah harapan, sumber penghidupan, dan bagian dari ritme hidup yang sudah dijalani puluhan tahun.
masyarakat Selo bahkan menyebut, dengan nada bercanda, bahwa di tempat mereka tidak ada yang namanya resign atau ganti profesi. Bertani adalah panggilan hidup. Mereka sadar betul, bertani tembakau bukan pekerjaan mudah. Butuh kesabaran menghadapi cuaca yang tak menentu, risiko gagal panen, hingga fluktuasi harga. Tapi mereka menjalaninya dengan penuh tekad, bukan sekadar karena tak ada pilihan lain, tapi karena mereka yakin: bertani itu bermartabat.
Salah satu dusun di wilayah ini, Dusun Genting di Desa Tarubatang, menyajikan lanskap alam yang begitu indah. Pemandangan Merbabu yang agung membentang di depan mata. Logikanya, desa seperti ini bisa saja dipenuhi vila, penginapan, dan restoran. Tapi kenyataannya tidak. Alih-alih menjual tanah mereka ke investor, masyarakat Selo lebih memilih mengandalkan sawah, ladang, dan hasil bumi.
Pak Parman, pemilik salah satu basecamp pendaki di sana, menjelaskan bahwa warga setempat memang tidak terlalu tergiur untuk membangun sektor pariwisata skala besar. Mereka menerima kedatangan pendaki sebagai berkah, tapi bukan prioritas. Jika musim tanam tiba, ladang tetap jadi utama. Jika musim panen tembakau datang, maka semuanya kembali ke ritme semula, mengolah, memetik, menjemur, dan menjual.
Yang membuat Selo berbeda bukan hanya pilihannya, tapi juga komitmen bersama yang mereka jaga. Menurut Pak Parman, ada kesepakatan tidak tertulis di desa: siapa pun warga yang menjual tanah ke orang luar harus menyerahkan 50 persen hasil penjualannya ke kas desa. Aturan ini secara efektif membentengi desa dari gelombang investor yang ingin menguasai lahan. Kesepakatan ini bukan sekadar urusan uang, tapi bentuk penghormatan terhadap tanah warisan, terhadap sejarah hidup yang mereka jaga bersama.
Ini adalah bentuk kedaulatan lokal yang jarang ditemui di tempat lain. Ketika banyak desa berlomba-lomba menjual tanah demi homestay dan resort, Selo justru menolak karena mereka tahu, tidak semua yang terlihat menguntungkan akan membawa kesejahteraan. Bagi warga Selo, kebun yang subur, lahan yang produktif, dan tanah yang tidak terjual, jauh lebih memberi ketenangan daripada pemasukan dari pariwisata yang tidak mereka kendalikan.
Menurut analisis sosiolog pertanian dari UGM, Dr. Tania Anggraini, pilihan warga untuk tetap bertani meski ditawari peluang ekonomi lain menunjukkan adanya kesadaran ekologis dan kultural yang kuat. “Ketika tanah dijadikan komoditas, yang hilang bukan hanya lahan tapi juga kearifan. Dan warga Selo mempertahankan itu,” ujarnya dalam seminar Agraria Lokal 2023.
Keputusan mereka juga bisa dipahami dari perspektif ekonomi mikro. Meskipun hasil pertanian tidak selalu stabil, warga Selo memiliki kendali penuh atas pengelolaan, distribusi, dan hasilnya. Mereka tidak bergantung pada sistem pasar pariwisata yang fluktuatif, yang kadang sangat ramai, kadang juga sepi. Bertani mungkin tak membuat mereka kaya raya, tapi cukup untuk hidup, dan cukup untuk tenang.
Tentu bukan berarti mereka anti-modernitas. Mereka tetap membuka basecamp, warung kecil, bahkan menyediakan penginapan untuk pendaki yang datang. Tapi semua itu dilakukan sebagai aktivitas tambahan, bukan utama. Prinsipnya sederhana: wisata bisa datang dan pergi, tapi tanah tidak bisa kembali jika sudah dijual.
Kisah dari Selo Boyolali ini menjadi cermin penting bagi kita semua. Bahwa di tengah dunia yang serba mengejar keuntungan, masih ada komunitas yang lebih memilih keberlanjutan daripada kemewahan sesaat. Mereka tidak menolak kemajuan, tapi mereka tahu kemajuan seperti apa yang harus dipilih.
Sebagai masyarakat luar, kita bisa belajar dari pilihan warga Selo. Bahwa menjaga alam, warisan budaya, dan keberlanjutan hidup bisa berjalan beriringan. Dan kadang, bentuk kemajuan terbaik bukan pada gedung tinggi, tapi pada keteguhan menjaga tanah dan pilihan hidup yang sederhana namun bermakna.
Pulau Indonesia dijual secara online menjadi pembahasan viral di media sosial

Tak hanya satu, pulau yang dijual dan disewakan berjumlah hampir 10.
Diketahui, delapan pulau Indonesia masuk ke situs jual dan beli pulau bernama Private Island Online.
Ternyata kasus serupa pernah terjadi beberapa tahun silam.
Pada 2018, Pulau Ajab di Kepulauan Riau dijual Rp3,3 dollar Amerika Serikat atau setara Rp44 miliar.
Kasus terulang lagi pada 2025. Kali ini situs tersebut mempersilahkan pembeli menawarkan harga terlebih dahulu.
Hanya satu dari lima pulau yang dijual ditawarkan dengan harga Rp2,173 miliar, yaitu Pulau Seliu.
Berikut adalah daftar 5 pulau di Indonesia yang dijual di situs Private Island Online:
Pasangan Pulau di Anambas, Kepulauan Anambas, Riau
Properti Pulau Sumba, Pulau Sumba, Indonesia
Properti Pantai Selancar, Pulau Sumba, Indonesia
Pulau Panjang, Nusa Tenggara Barat, dekat dengan resor Amanwana di Pulau Moyo
Plot Pulau Seliu, terletak berdekatan dengan pulau induk Belitung di Indonesia.
Sedangkan jika diketik pulau yang disewakan di situs tersebut, maka akan muncul 3 pulau. Berikut daftarnya:
Pulau Macan, Kepulauan Seribu
Pulau Joyo, Kepulauan Riau
Pulau Pangkil, 95 km dari Singapura.
Jadi total ada delapan pulau di Indonesia yang ditawarkan untuk dijual dan disewakan oleh web Private Island Online saat kini.

Ada aja gebrakannya salah satu penghianat bangsa ini! (tw)
