Connect with us

Nasional

Masih Mampukah Ideologi Pancasila Hadapi Neo PKI Zaman Now?

Published

on

REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Musuh abadi ideologi pancasila dari jaman dahulu setelah kemerdekaan adalah paham atau ideologi komunis yang terus menyerang bangsa ini dari seluruh aspek kehidupan bernegara. Komunisme  adalah sebuah ideologi baik ideologi dalam bidang politik maupun dalam bidang ekonomi. Tapi kalau hari ini ideologi Komunisme tersebut tampak lebih menonjol  dalam bidang politik di mana kekuasaan  dipusatkan dan terpusat pada salah satu partai saja seperti Partai Komunis China (PKC). Di sana segala hal yang menyangkut kehidupan politik diatur dan dikendalikan oleh segelintir orang saja yang duduk dalam elit atau politbiro partai.

Tapi dalam bidang ekonomi, China memang sudah  meliberalisasikan dirinya dengan mengakui kepemilikan dan hak-hak pribadi serta memberikan kebebasan yang cukup luas kepada para pelaku pasar untuk bersaing. Alhasil, di China saat ini sangat  banyak bermunculan orang2 kaya baru seperti jackma dll. Tetapi sudah mucul berbagai orang kaya. Dan kekayaan mereka pun diakui dan dilindungi  oleh negara padahal komunisme itu berazaskan pada jargon: Sama Rata.

Namun, meski banyak yang sudah warga China yang kaya raya, jangan sekali-kali mereka  mencoba untuk  melakukan hal-hal yang terkesan  menentang kebijakan pemerintah. Dan kalau mereka nekad melakukannya maka dia secara politik  bersiko menghadapi persoalan sangat besar.

Jadi dengan demikian sebenarnya  idiologi komunisme dalam bidang ekonomi itu sampai kini masih dan nyata di China. Sebab, di sana pemerintah secara makro ekonomi masih memainkan peranan yang sangat dominan di dalam menentukan arah dan warna terhadap pasar dan para pelakunya.

Memang, dengan komunisme gaya baru ini China tampak sangat berhasil dalam membuat dunia terpesona. Ini karena China telah berhasil menjadikan dirinya —-dari perspektif PDB– menjadi salah satu dari dua raksasa ekonomi dunia di samping Amerika Serikat.

Hal tersebut tentu saja telah membuat  idiologi komunisme sekarang ini  menjadi sebuah idiologi yang seksi. Apalagi bila melihat dan membandingkan dengan bagaimana bobroknya praktik dari idiologi liberalisme kapitalisme serta ketidak mampuannya memberi harapan bagi terciptanya keadilan dan pemerataan ekonomi.

Tetapi meskipun demikian kita sebagai bangsa jelas tetap tidak bisa menerima kehadiran idiologi komunisme di negeri. Mengapa?  Ini karena kita sebagai bangsa sudah punya ideologi sendiri yang disebut dengan ideologi Pancasila di mana sila pertamanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, yaitu sebuah sila yang sangat dibenci dan dimusuhi oleh idiologi komunisme. Sila ini memang sangat dibenci kaum komunisme karena mereka melihat agama itu adalah sebagai candu yang memang enak untuk dinikmati, tapi dalam jangka waktu tertentu kata mereka dia akan merontokkan tubuh dari orang yang menghisap dan mengkonsumsinya.

Jadi, yang namanya  idiologi komunisme  akan tetap melihat agama itu tidak baik dan akan merusak masyarakat dan  rakyat luas.  Oleh karena itu mereka telah menjadikan agama sebagai musuh terbesar bagi idiologi mereka.

Pandangan-pandangan  seperti ini sekarang di negeri kita juga  sudah banyak menyebar, diterima, dan tertanam di kalangan rakyat. Tidak hanya di kalangan rakyat miskin tapi juga di kelompok orang-orang kaya dan terdidik. Kenyataan seperti ini tentu jelas sangat kita sayangkan karena hal ini jelas amat berbahaya. Ujung akhirnya nanti jelas hanya akan mengancam persatuan dan kesatuan kita sebagai bangsa.

Bahkan pun kalau seandainya faham ini terus berkembang dan tidak terkendalikan, maka tidak mustahil eksistensi bangsa ini akan terancam. Untuk itu mereka telah berusaha untuk merebut kekuasaan dan simpati melalui cara-cara yang konstitusional atau semi konstitusional. Dan, bila mereka sudah menganggap dirinya benar-benar siap maka mereka akan hadir dalam kekuatan politik dan ekonominya. Mereka tentu saja akan terus berusaha untuk mencengkramkan tangan dan kakinya semakin lebih kuat lagi.

Untuk itu, mereka tentu saja tidak akan segan-segan memberi dukungan kepada komunis internasional melakukan tindakan-tindakan repressif dan membungkam serta memasung demokrasi yang ada hari ini di negeri ini. Bila ini yang terjadi maka tentu suatu hal yang sangat menyedihkan. Nasib kita sebagai umat beragama terutama umat Islam jelas akan sangat mengenaskan. Ini karena yang menjadi musuh utama bagi komunisme tentu  adalah agama yang tidak hanya mengatur hubungan antara manusia  dengan Tuhan, tapi juga  mengatur kehidupan publik.

Dan agama yang seperti itu tentu adalah jelas agama Islam. Ini karena banyak agama di dunia ini seperti kita ketahui  hanya mengurusi masalah hubungan antara manusia dengan Tuhan saja, sementara masalah di luar itu menurut mereka menjadi tanggung jawab negara atau pemerintah (sekulerisme).

Jadi idiologi komunisme yang harus kita waspadai ini adalah sebuah idiologi yang kini telah melakukan metamorfisis. Kalau dahulu idiologi komunisme dengan konsep sama rata sama rasanya menjadi sebuah idiologi yang sangat ditakuti oleh para orang kaya karena jelas kekayaan mereka akan diambil dan akan disita oleh negara, namun sekarang idiologi komunisme tidak lagi akan mengancam mereka. Bahkan akan bisa membantu mereka untuk semakin besar dan membesar sehingga kita lihat idiologi komunisme hari ini tidak saja digandrungi oleh orang-prang yang miskin dan oleh elemen-elem masyarakat yang termarginalkan. Dan juga akan digandrungi juga oleh orang-orang yang terdidik serta juga oleh para konglomerat.

Komunisme masa kini malah bisa merea tunggu karena kehadiran idiologi ini membuat kekayaan dan hidup mereka tidak akan terancam asal saja mereka mau menyesuaikan diri dan beradaptasi. Dan ini tak rumit karena mereka itu hanya menyesuaikan diri dengan keinginan dan ketentuan-ketentuan dari partai saja.

Hal ini bagi anak-anak bangsa yang masih punya idealisme, jelas menjadi sebuah tantangan dan kerisauan tersendiri. Kita ingin menjadikan bangsa dan negara kita untuk menjadi negara maju. Namun kita ingin maju sesuai dengan karakteristik dan identitas kita sebagai bangsa yang menjunjung tinggi lima sila dalam Pancasila.

Pancasila jelas  kita yakini akan bisa menghantarkan kita menjadi bangsa yang terhormat. Ideologi Pancasila kita meletakkan manusia pada tempatnya semestinya sebagai hamba Tuhan dan sebagai makhluk sosial yang menghormati nilai-nilai dari ajaran agama (yang itu jelas sangat ditentang dan tidak disukai oleh idiologi komunisme).

Oleh karena itu tidak ada pilihan bagi kita kecuali satu: yaitu melawan dan mengenyahkan idiologi komunisme dari negeri ini. Kita ingin menjadikan negara kita menjadi negara maju tapi dengan disinari oleh sila-sila yang ada dalam pancasila yang sudah merupakan keyakinan dan kepercayaan kita sebagai bangsa.

Semoga cita-cita kita untuk itu bisa tercapai dan  mendapat ridho dari Tuhan Yang Maha Esa.

Masih sanggupkah Ideologi Pancasila Bertahan di Bumi pertiwi ini jika mayoritas umat di Indonesia terus di adu domba?

“Hari lahirnya di peringati, tapi makna dan isi ajarannya di khianati, Itulah nasib Pancasila”. (tw)

Peristiwa

Warga Ricuh Berebut Bansos saat Jokowi Open House di Istana Negara

Published

on

REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Open House Jokowi yang berlangsung di Istana Negara tampak karut-marut pada Rabu siang, 10 April 2024. Para warga yang merupakan tamu open house merangsek masuk ke kompleks Istana dan berebut bantuan sosial atau Bansos pada pukul 11.20 WIB.

Mula-mula warga menerobos masuk kantor Kementerian Sekretariat Negara, Jalan Veteran, Jakarta Pusat. Mereka menabrak papan pembatas yang dipasang petugas keamanan. Lantaran petugas tak mampu membendung desakan warga, pembatas tersebut jebol.

Warga lalu masuk ke dalam kompleks Istana tanpa mengikuti arahan protokoler. Mereka tak ikut skrining dan melewati pintu detector begitu saja. Para tamu lantas membawa semua barang bawaan termasuk telepon seluler yang sebenarnya dilarang dibawa masuk.

Warga kemudian berkumpul di depan pintu masuk ruang tamu untuk bertemu Jokowi. Sejumlah petugas keamanan sudah berjaga di depan pintu. Petugas lantas tidak mengizinkan warga masuk.

Karena tak berhasil menuju ruang silaturahmi dan bersalaman dengan Jokowi, warga langsung menghampiri tenda tempat pembagian bansos. Bansos ini seharusnya dibagi-bagikan pihak Istana untuk warga yang sudah bersalaman dengan Jokowi. Warga menyerbu tenda dan menggulingkan meja yang terdapat di dekat tenda itu.

Beberapa petugas berseragam berteriak-teriak. “Ini (Bansos) bukan untuk dibagikan. Tolong yang tertib,” kata salah seorang petugas. Petugas kewalahan. Sejumlah warga tampak terimpit. Beberapa di antaranya teriak minta tolong. Anak-anak kecil yang ikut datang di acara open house tampak terpisah dengan orang tuanya.

Sedikit jauh dari kerumunan, seorang petugas memapah warga yang berjalan sempoyongan. Mata warga itu lebam-lebam. Menurut pantauan Tempo, ada dua warga yang dipapah petugas dan dilarikan ke pusat kesehatan. Tim medis tampak berlari mendekat.

Setelah bansos habis, warga membubarkan diri. Petugas keamanan meminta warga untuk segera meninggalkan lokasi kejadian. Mereka meyakinkan warga bahwa acara sudah selesai.

Pada pukul 12.30, kompleks Kementerian Sekretariat Negara sudah sepi. Tersisa beberapa warga yang masih mencari informasi soal barang mereka yang hilang. Belum ada keterangan dari pihak Istana Negara perihal kericuhan dalam acara open house

Adapun Istana Negara menggelar acara open house tanpa undangan pada hari ini, Rabu, 10 April 2024. Para tamu diatur untuk dapat bersalaman dengan Jokowi dan Ibu Negara Iriana Jokowi serta Wakil Presiden Ma’ruf Amin dan istri wakil presiden, Wury Estu Handayani. Sambil menunggu antrean, warga dapat menikmati hidangan makanan dan minuman yang disiapkan Istana. (tw)

Continue Reading

Nasional

Sejarah Idul Fitri dan Maknanya bagi Umat Muslim

Published

on

REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Sesaat lagi, umat Muslim di seluruh dunia akan merayakan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1445 H. Selain merayakan kemenangan setelah menjalankan puasa Ramadan, di momen spesial ini umat Muslim dianjurkan untuk mengenang sejarah Idul Fitri sebagai bentuk refleksi diri.

Mengutip buku Nikmatnya Shalat oleh Ahmad Rofi Usmani, Hari Raya Idul Fitri mulai dilaksanakan Rasulullah SAW dan kaum Muslimin setelah beliau hijrah ke Madinah. Sejak itu pula sholat Idul Fitri dilaksanakan.

Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha sejatinya dilaksanakan sebagai pengganti dua hari raya yang diperingati masyarakat jahiliyah. Bagaimana sejarah Idul Fitri selengkapnya?

Sejarah Idul Fitri

Sejarah Idul Fitri bermula dari keberadaan dua hari raya yang diperingati kaum Jahiliyah di Madinah. Dijelaskan dalam jurnal Makna Perayaan Hari Raya Idul Fitri dan Hari Natal oleh Ihyaul Ulumuddin, sebelum kedatangan Rasulullah, masyarakat Jahiliyah memiliki dua hari raya, yaitu Hari An-Nairuz dan Hari Al-Mahrajan.

Oleh kaum Jahiliyah, kedua hari raya tersebut dijadikan ajang untuk memamerkan kekuatan dan kelebihan dalam berbagai bidang. Mereka juga merayakannya dengan berpesta pora, menyelenggarakan berbagai pertunjukan, hingga menyantap hidangan lezat dan minuman yang memabukkan.

Mengetahui hal itu, Rasulullah SAW berkata pada kaum tersebut bahwa Allah telah mengganti kedua hari raya mereka dengan Idul Fitri dan Idul Adha yang penuh dengan makna serta hikmah. Diriwayatkan dari Anas RA, dia berkata:

Ketika Rasulullah SAW datang ke Madinah dan penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang di dalamnya mereka berpesta-pesta dan bermain-main di hari itu pada masa jahiliyah. Lalu beliau bersabda, ‘Apakah dua hari itu?’. Mereka berkata, ‘Pada hari itu kami berpesta-pesta dan bermain-main dan ini sudah ada sejak zaman jahiliyah dulu.’

Maka Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allah telah menggantikannya untuk kalian dengan dua hari yang lebih baik yaitu Hari Raya Idul Adha dan Hari Raya Idul Fitri.’” (HR. Abu Daud).

Perayaan Idul Fitri Pertama Kali

Mengutip buku Berpuasa Seperti Nabi tulisan Endri Nugraha Laksana, Hari Raya Idul Fitri pertama kali dirayakan selepas umat Islam meraih kemenangan atas Perang Badar pada 17 Ramadan tahun 2 Hijriah.

Dalam peristiwa tersebut, sebanyak 319 kaum Muslimin yang berhadapan dengan 1.000 tentara dari kaum kafir Quraisy berhasil memenangkan pertempuran.

Meski dalam kondisi letih dan luka yang belum pulih akibat Perang Badar, Rasulullah SAW tetap merayakan Idul Fitri pertama dengan sukacita. Setelah menunaikan sholat Ied, beliau juga menyampaikan khutbahnya kepada para jamaah.

Sejak itu, Hari Raya Idul Fitri menjadi simbol kemenangan umat Muslim. Yang ditonjolkan bukan lagi kekuatan dan kekayaan, melainkan lantunan takbir dan tahmid serta perasaan kasih sayang terhadap sesama kaum Muslim.

Makna Idul Fitri

Sebagai puncak dari pelaksanaan ibadah puasa, Idul Fitri mengandung makna yang sangat dalam. Dikutip dari buku Sejarah Terlengkap Agama-Agama di Dunia oleh M. Ali Imron, perayaan ini berkaitan erat dengan tujuan dari puasa itu sendiri, yakni menjadi manusia yang bertakwa.

Dalam bahasa Arab, Idul Fitri berasal dari kata Id yang berarti kembali dan fitri yang berarti suci, bersih dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, dan keburukan. Dengan demikian, yang dimaksud Idul Fitri adalah kembali menjadi manusia yang suci.

Hari Raya Idul Fitri biasanya diperingati dengan saling bermaaf-maafan. Di momen ini pula umat Muslim dapat kumpul bersama keluarga dan menikmati kebersamaan dengan orang-orang terkasih.

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Unggul dan MediaOnline ReportaseIndonesia.com Mengucapkan : Selamat  Idul Fitri 1 Syawal 1445 H

Taqabbalallohu Minna wa Minkum, Shiyaamana washiyamakum Barakallahu fiikum..
Taqabbal ya Kariim..

‍‌‌‌‌‍‍‌‍‌‌‌🌙‌‌ Mohon maaf lahir & batin ‍‌‌‌‌‍‍‌‍‌‌‌🌙‌‌
atas segala salah & khilaf.
Semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT…
Aamiin yaa Rabb..

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Unggul ReportaseIndonesia.com. (utw)

Continue Reading

Nasional

Selamat Jalan Ramadan

Published

on

REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullah Berkata :
Wahai hamba Allah, bulan Ramadhan telah bersiap-siap untuk berangkat. Tidak ada lagi yang tersisa kecuali saat-saat yang singkat. Barangsiapa yang telah melakukan kebaikan selama ini, hendaklah ia menyempurnakannya. Barangsiapa yang malah sebaliknya, hendaklah ia memperbaikinya dalam waktu yang masih tersisa. Karena ingatlah amalan itu dinilai dari akhirnya.

Manfaatkanlah malam-malam dan hari-hari Ramadhan yang masih tersisa, Serta titipkanlah amalan sholih yang dapat memberi kesaksian kepadamu nantinya di hadapan Al Malikul ‘Alam (Sang Penguasa Hari Pembalasan). Lepaskanlah kepergian (bulan Ramadhan) dengan ucapan salam yang terbaik :

“Salam dari Ar-Rahman (Allah) pada setiap zaman. Atas sebaik-baik bulan yang hendak berlalu. Salam atas bulan di mana puasa dilakukan. Sungguh ia adalah bulan yang penuh rasa aman dari Ar-Rahman. Jika hari-hari berlalu tak terasakan. Sungguh kesedihan hati untuk tak pernah hilang.”. (tw)

Continue Reading
Advertisement

Trending