Connect with us

Gayahidup

Memuliakan Perempuan dan Generasi Masa Depan

Published

on

REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Tak ada yang mewah dalam warung pecel lele di pinggir jalan itu. Peralatan masaknya sederhana, kursinya dari plastik tipis, pun beberapa sudut mejanya sedikit berlubang. Namun, ada satu keistimewaan dalam warung pecel lele itu: Penjualnya adalah perempuan yang tangguh.

Ibu penjual pecel lele itu hijrah ke ibukota dari Brebes, salah satu wilayah dengan tingkat kemiskinan tinggi di Jawa Tengah. Ratusan kilometer ia tempuh demi masa depan yang lebih baik bagi buah hatinya. Sejatinya ia tak hanya berdagang, di warung kecilnya ia sedang merancang generasi baru yang cemerlang.

Rosi, sang buah hati, boleh saja lahir dari tempat sederhana, tapi mimpinya menjulang tinggi ingin menjadi pengusaha. Ia menyusun kepingan mimpinya dengan jalur pendidikan formal di sekolah. Warung pecel itu semacam laboratorium mini untuk menggapai cita-citanya menjadi pengusaha.

Di warung pecel itu, kami menjadi saksi potret perempuan yang melukis generasi masa depan.

Dalam tiap perjalanan Tirakat untuk mendengar, menyerap, dan merasakan kondisi terkini masyarakat di berbagai penjuru Republik, kami menemui banyak perempuan yang dalam kesederhanaannya dan tanpa disadarinya sedang mendidik buah hatinya menjadi pribadi tangguh.

Perempuan adalah tiang tegaknya sebuah bangsa, penopang dalam kehidupan bermasyarakat. Di mana pun kita berada, kita akan selalu menemui pribadi-pribadi penggerak. Pribadi penggerak itu kebanyakan perempuan. Di Jakarta ada program Ibu Ibukota yang menemukan perempuan penggerak. Dampak peran mereka dirasakan di masyarakat walau mereka sering tak terdengar dan jadi berita. Mereka yang tak nampak di permukaan, tapi senyatanya membuat perubahan.

Zalim rasanya jika negeri ini membiarkan perempuan berjuang sendirian.

Saat negara tak melindungi perempuan dan anak, masa depan bangsa ini terancam. Negara ini harus memuliakan semua perempuan dan anak, tanpa terkecuali.

Masalah Perempuan, Masalah Bangsa

Republik ini tak pernah kekurangan perempuan yang luar biasa.

Perempuan-perempuan tangguh tersebar di seluruh negeri. Ibu penjual pecel lele yang berjuang mencari rezeki, mahasiswi yang semangat menata mimpi, simbok pedagang pasar yang bersiap sejak dini hari, perempuan pekerja kantoran yang berpeluh sedari pagi, buruh pabrik yang telaten bekerja, sampai ibu rumah tangga yang kerap berjuang sendiri.

Tak terhitung pengorbanan perempuan-perempuan itu untuk Republik ini. Negeri ini butuh memahami perempuan dengan sepenuh hati, bukan menghakiminya dengan beragam persepsi.

Selama ini, perempuanlah yang menata satu per satu bata untuk bangunan masa depan negeri ini. Masa depan bangsa ini dipertaruhkan jika kita gagal memuliakan perempuan.

Sayangnya, hari-hari ini ketidakadilan terpampang nyata dalam tiap langkah kehidupan perempuan.

Sejak lahir, perempuan sering tak diberi kesempatan yang sama. Bertumbuh dalam lingkungan yang rawan dengan kekerasan. Mendapat upah yang lebih rendah saat bekerja. Bahkan dalam berkeluarga, kerap mengemban tanggung jawab pengasuhan sendirian.

Ketika buah hati lahir dari rahimnya, seorang ibu langsung bertemu dengan kenyataan pahit: 1 dari 5 anak Indonesia mengalami stunting.

Saat buah hatinya menempuh pendidikan, perempuan kembali dihadapkan pada ketidakadilan. Meski telah tujuh dekade lebih negeri ini merdeka, 7 dari 10 anak yang putus sekolah terjadi karena faktor ekonomi. Bahkan, hanya 6 dari 100 anak keluarga miskin yang mampu mengakses pendidikan sampai perguruan tinggi.

Kita perlu ingat di mana pun lokasi lahirnya, apa pun status ekonominya, setiap anak di Indonesia punya hak untuk tercerdaskan. Perih rasanya ketika doa seorang ibu untuk pendidikan anak-anaknya terbentur dengan kenyataan bahwa negeri ini belum bisa memenuhi janjinya mencerdaskan kehidupan setiap anak bangsa.

Ini bukan hanya masalah perempuan, tak cuma problem keluarga, ini adalah masalah bangsa. Jika masalah ini dibiarkan, maka generasi masa depan terancam tak terdidik. Bonus demografi yang selama ini digaungkan bisa berubah menjadi bom waktu untuk negeri ini.

Perlakuan negara pada perempuan dan anak-anak bangsa ini wajib berubah. Ketika negara berkomitmen berpihak pada perempuan maka efek masa depannya akan dahsyat. Ini adalah ikhtiar jangka panjang, hasilnya tak kasat mata, tak bisa langsung difoto, tapi layak untuk terus diperjuangkan dan kelak akan disyukuri hasilnya.

Gelar Keadilan, Hadirkan Kesempatan

Jika ingin membicarakan Indonesia yang maju dan adil di masa depan, maka kita perlu memfokuskan diri untuk meningkatkan kualitas manusianya. Menempatkan kesehatan, pendidikan, dan kebahagiaan setiap anak bangsa sebagai prioritas, bukan menjadikan manusia hanya sebagai salah satu komponen produksi.

Cara terbaik merancang kualitas manusia Indonesia adalah dengan memfokuskan diri pada generasi masa depan. Tugas negara adalah memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Itulah bentuk konkret menggelar keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kita ingin mendorong tiga gagasan keadilan untuk menghadirkan kesempatan yang sama bagi generasi masa depan.

Pertama, keadilan pemenuhan gizi. Setiap anak di wilayah negeri ini berhak mendapatkan asupan gizi yang layak. Ini bukan hanya sekadar problem kesehatan, ini soal masa depan negeri ini. Maka, pendekatannya tak bisa sekadar programatik, ini kerja kolektif seluruh elemen negara.

Peran negara bukan sekadar menjadi administrator melainkan mengorkestrasi kolaborasi dengan semua elemen. Negara perlu rendah hati merangkul semua pemangku kepentingan khususnya para perempuan demi memenuhi hak pemenuhan gizi yang layak bagi anak-anak.

Ikhtiar ini sudah kami jalankan di Jakarta dengan Kartu Anak Jakarta (KAJ) yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Pendekatan yang kami lakukan tak hanya berhenti pada bantuan sosial, melainkan melalui kolaborasi memenuhi kebutuhan gizi anak. Bersyukur upaya meningkatkan gizi melalui Pemberian Makanan Tambahan Untuk Anak Sekolah (PMTAS) yang kami lakukan berhasil menjangkau 200 ribu pelajar, khususnya di perkampungan pra-sejahtera.

Pemberian makanan tambahan mempertimbangkan asupan gizi yang sesuai untuk anak. Misalnya, kami tak ingin anak-anak mendapat asupan gula berlebih.

Negara ini menghadapi dua titik ekstrem kesehatan anak-anak. Di satu sisi angka stunting tinggi, di sisi lain obesitas menjadi momok bagi anak negeri ini. Kondisi itu jadi cermin buram belum tergelarnya keadilan gizi pada anak. Maka, tugas negara adalah memastikan setiap anak berhak dan mudah mendapatkan akses gizi yang seimbang.

Bukan hanya bicara dampak, kami memikirkan betul agar prosesnya kolaboratif. Kerap kali perempuan tidak dilibatkan dalam beragam inisiatif pembangunan, kami mengubah perspektif itu dengan menjadikan perempuan sebagai penggerak utama gerakan ini. Perempuan-perempuan di 600 lebih Komite Sekolah menjadi aktor penting dalam program ini, mulai dari merancang strategi sampai mengeksekusi gerakan meningkatkan asupan gizi.

Tak sekali dua kali kami menempatkan perempuan sebagai aktor penggerak. Pada saat pandemi, ibu-ibu penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) juga berperan sentral mulai dari pendataan bantuan untuk warga sampai mempercepat program vaksinasi. Kami jadi saksi, perempuan adalah sosok penggerak yang paling memahami lingkungannya.

Kedua, keadilan pendidikan untuk semua. Meningkatkan kualitas manusia adalah pekerjaan rumah terbesar negeri ini. Pendidikan adalah kunci untuk mengembangkan kualitas manusia Indonesia, eskalator sosial ekonomi bagi jutaan anak di tiap wilayah negeri ini.

Kerap kali kita menganggap “luar biasa” ketika seorang anak dari sudut negeri ini mencapai pendidikan tinggi. Kita perlu mengubah hal yang “luar biasa” itu menjadi “lumrah”. Mewujudkan kenormalan baru bahwa di mana pun lahirnya, dari mana pun asalnya, anak itu layak dan normal mendapatkan pendidikan tertinggi.

Kita ingin setiap anak tak hanya berhak mendapat kesempatan belajar 12 tahun. Negara perlu hadir sejak usia emas anak melalui Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Kita ingin memasifkan PAUD Inpres di tiap sudut negeri ini. PAUD Inpres adalah komitmen kami pada jutaan keluarga bahwa Republik ini setia menemani perjuangan seorang ibu mendidik buah hatinya sejak usia dini.

Saat memimpin ibukota, kami mewujudkan komitmen menyediakan pendidikan sejak usia dini sampai pendidikan tinggi. Mulai dari menghadirkan 167 PAUD negeri gratis, 900 ribu lebih penerima Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus, bantuan pendidikan masuk sekolah swasta, sampai lebih dari 14.000 penerima manfaat Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul. Semua itu adalah upaya menghadirkan kesempatan yang sama bagi setiap anak memperoleh pendidikan terbaik. Kami ingin negara hadir membuka kesempatan pada mereka yang lahir dalam “kesempitan”.

Ketiga, keadilan perlindungan untuk anak. Rasa aman merupakan hak dasar dan utama, semua anak berhak dipenuhi haknya mendapatkan rasa aman.

Sayangnya, lingkungan dan institusi pendidikan kita belum menjadi ruang yang aman bagi anak. Mimpi Ki Hadjar Dewantara menjadikan sekolah layaknya taman bermain yang membahagiakan anak-anak ternodai dengan banyaknya kasus kekerasan dan perundungan di sekolah.

Sejak lama perlindungan pada anak menjadi prioritas kami. Komitmen itu kami tuangkan saat mengemban amanah mengelola pendidikan melalui Permendikbud No. 82 tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Sekolah.

Peran negara tak hanya melindungi anak secara fisik, tak kalah penting adalah kesehatan mental anak. Setiap anak di negeri ini layak untuk mendapatkan akses layanan kesehatan mental yang mudah. Bersyukur, selama di Jakarta, kami menyediakan puluhan psikolog gratis di Puskesmas.

Ini adalah komitmen kami bahwa negara harus bisa memenuhi hak anak mendapatkan rasa aman, termasuk hak anak difabel yang perlu mendapat perlakuan adil.

Ketika membicarakan anak-anak, kita ingin visinya tidak parsial. Mustahil membicarakan generasi masa depan tanpa memuliakan perempuan.

Berpihak Pada Perempuan

Salah satu janji kami di Jakarta adalah Memuliakan Perempuan. Kami menyebutnya janji bukan sekadar program karena janji berarti harus dilunasi. Keberpihakan pada perempuan dan anak kami tuangkan secara konkret menjadi Kegiatan Strategis Daerah. Ikhtiar itu Alhamdulillah kini telah tuntas.

Visi dan gagasan yang terus kami dorong adalah upaya memenuhi hak-hak perempuan, memuliakan posisi perempuan.

Pertama dan terutama, tidak ada toleransi bagi kekerasan terhadap perempuan. Negara harus berpihak seratus persen pada korban. Selama bertugas di Jakarta, kami tegaskan bahwa negara hadir dan melindungi termasuk aspek pembiayaannya, dari mulai pencegahan, respons, sampai rehabilitasi untuk perempuan korban kekerasan.

Buah konkret komitmen itu adalah layanan pelaporan kekerasan melalui Jakarta Siaga 112 yang terintegrasi dengan kepolisian, menyediakan lebih dari 300 gerai pelaporan di kantor pemerintahan, perguruan tinggi, dan transportasi publik. Korban kekerasan juga bisa memanfaatkan fasilitas 2 rumah aman dan pelayanan medis di 32 Rumah Sakit termasuk fasilitas visum gratis.

Yang kedua, tugas negara adalah menjamin keselamatan seorang ibu. Sudah terlalu banyak ibu dan bayi yang meninggal dunia dalam proses melahirkan. Menggendong buah hati adalah momen paling membahagiakan bagi seorang ibu, bayangkan betapa hancur hatinya ketika momen itu berganti dengan menguburkan sang buah hati.

Negara tak boleh lagi mempertaruhkan nyawa seorang ibu dan buah hatinya. Negara harus menjamin nyawa setiap ibu dan anak yang lahir dari rahimnya. Misi kami, Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) harus diturunkan. Satu saja kematian ibu atau anak adalah angka yang terlalu besar dan tak bisa kita toleransi.

Komitmen kami berikutnya adalah menciptakan ekosistem yang memuliakan perempuan. Selama ini, seakan-akan tanggung jawab pengasuhan dan penyiapan masa depan anak-anak hanya disematkan pada pundak seorang perempuan. Persepsi itu jelas keliru, tanggung jawab mengembangkan kualitas generasi masa depan adalah kerja kolektif bersama, tidak hanya ibu, tapi juga ayah, lingkungan, bahkan negara.

Kita ingin memastikan semua pemangku kepentingan mulai dari pemerintahan, sektor industri, sekaligus masyarakat berpihak pada perempuan.

Ikhtiar itu sudah kami jalankan di Jakarta melalui beberapa inisiatif. Dalam lingkungan pemerintah daerah, kami memulai langkah kebijakan cuti ayah selama satu bulan saat istrinya melahirkan. Kehadiran ayah diharapkan bisa mengoptimalkan masa penting pertumbuhan anak sekaligus mengurangi beban domestik perempuan.

Setiap tempat kerja harus menjadi ruang yang ramah bagi pekerja perempuan. Bagi ibu yang bekerja, tugas negara adalah menghadirkan ruang tumbuh kembang anak yang aman. Setelah mendengar aspirasi perempuan, kami mendorong penyediaan daycare (tempat penitipan anak) dimulai dari kantor-kantor pemerintahan dan pasar tradisional. Hak-hak perempuan mulai dari cuti hamil, cuti haid, bebas dari kekerasan, dan layanan pendukung seperti ruang laktasi wajib dipenuhi. Perempuan juga berhak mendapatkan upah setara, tak boleh ada lagi diskriminasi upah bagi pekerja perempuan.

Pada saat perempuan berkembang, maka semua masyarakat akan mendapatkan manfaat. Generasi penerus pun akan mendapatkan awal yang lebih baik dalam hidup. Negara ini perlu tegas berkomitmen menghasilkan kebijakan yang berempati dan berpihak pada perempuan.

Kepada para perempuan tangguh di negeri ini: Ibu rumah tangga, pekerja kantoran, pedagang kecil, mahasiswi, remaja putri, calon ibu, single parent, dan jutaan perempuan tangguh di sudut-sudut negeri ini izinkan kami membersamai perjuangan sunyi yang sudah perempuan jalani selama ini.

Ikhtiar kami negara ini tak boleh membiarkan perempuan berjuang sendirian. Ini memang jalan yang jarang diperhatikan, tapi akan terus kita perjuangkan sekuat-kuatnya, layaknya perjuangan seorang ibu demi masa depan buah hatinya.

By: Anies Rasyid Baswedan. (ut)

Gayahidup

Kuliner Khas Bukittinggi Nasi Kapau, Lalu Apa bedanya dengan Nasi Padang?

Published

on

REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Nasi kapau adalah salah satu kuliner dari Bukittinggi dengan lauk yang kaya dengan bumbu bercita rasa khas Minang.

Karena terlihat serupa, banyak orang yang mengira nasi kapau dan nasi padang adalah kuliner yang sama.

Padahal nasi kapau dan nasi padang adalah dua kuliner berbeda, walau keduanya sama-sama berasal dari Tanah Minang.

Asal-usul Nasi Kapau

Warga setempat kerap menyebut warung yang menjajakan kuliner ini sebagai “rumah makan nagari kapau”.

Hal ini karena nasi kapau ternyata berasal dari nama sebuah nagari (desa) di Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Dari nagari Kapau, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam itulah kuliner nasi kapau bermula.

Seiring berjalannya waktu, nasi kapau kemudian banyak dikenal hingga menjadi kuliner khas di Bukittinggi, Sumatera Barat.

Ragam Lauk Khas Nasi Kapau

Sajian nasi kapau juga identik dengan lauk khas seperti rendang ayam, gulai tambusu, gulai ikan bertelur, gulai tunjang, gulai kapau, serta dendeng kering.

Beberapa lauk pendamping ini memang hanya bisa ditemukan di lapau nasi kapau saja.

Sajian nasi kapau identik dengan gulai kapau yang berbahan dasar kol, nangka dan kacang panjang dengan kuah santan kuning yang bercita rasa sedikit asam.

Gulai kapau sangat cocok disantap dengan nasi hangat dan lauk khas kapau yakni rendang ayam.

Rendang yang merujuk cara memasak menjadi ciri khas di masing-masing daerah di Sumbar, di mana di Kapau yang menjadi ciri khas adalah rendang ayam.

Menu khas andalan nasi kapau yang lain adalah gulai tambunsu yang berbahan dasar usus sapi yang dimasukkan adonan telur dan tahu.

Namun saat ini penikmat nasi kapau juga bisa memilih ragam lauk lain dari olahan ikan, ayam, atau daging sapi.

Selain itu, di beberapa lapau nasi kapau juga menyediakan hidangan pencuci mulut manis seperti bubur kampiun dan es tebak, serta pilihan menu kudapan otentik seperti keripik singkong pedas (balado) dan lemang tapai.

Baik rumah makan padang maupun lapau kapau, keduanya memiliki cara menyajikan makanan yang berbeda dan menjadi ciri khas tersendiri.

“Penyajian nasi kapau itu dengan cara bertingkat, dari atas ke bawah seperti tangga, diletakkan di atas meja di dekat lapau,” ungkap pemilik nasi Kapau di jakarta, (15/2024).

Sementara rumah makan padang menyajikan lauk di atas piring, lalu meletakkannya di etalase. (utw)

Continue Reading

Gayahidup

Hikmah Isra’ Mi’raj yang Bisa Dipetik Umat Islam

Published

on

REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Peristiwa Isra’ Mi’raj menjadi hari penting bagi umat Islam. Berikut beberapa hikmah Isra Miraj yang bisa dipetik umat Islam.

Peristiwa Isra Mikraj diperingati setiap tanggal 27 Rajab. Pada tahun ini, 27 Rajab bertepatan dengan 8 Februari 2024.

Isra dan Mikraj sendiri pada dasarnya merupakan dua peristiwa berbeda. Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah me Masjidil Aqsa di Palestina.

Sementara Mikraj merupakan naiknya Rasulullah SAW ke Sidratul Muntaha, langit tertinggi yang tak dapat dijangkau oleh siapa pun.

Perjalanan itu dialami Rasulullah dalam waktu yang sangat singkat, yakni hanya dalam semalam.

Berikut bunyi ayat Al-Qur’an yang bicara tentang Isra Miraj:

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

Subhanalladzi asra bi’abdihi lailam minal-masjidil-harami ilal-masjidil-aqsallazi barakna haulahu linuriyahu min ayatina, innahu huwas-sami’ul-basiir.

Artinya:

“Maha Suci Allah, yang telah menjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda [kebesaran] Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Israa-1)

Hikmah Isra Miraj

Ada beberapa hikmah dari peristiwa Isra Miraj yang bisa didapat umat Muslim. Berikut di antaranya.

1. Mempercayai kekuasaan Allah SWT

Peristiwa Isra dan Mikraj jadi bukti keagungan dan kekuasaan Allah SWT. Perjalanan Rasulullah SAW seolah tak masuk akal jika hanya dituntaskan dalam satu malam.

2. Ujian keimanan

Menerima kebenaran peristiwa Isra Miraj akan menambah keimanan seorang Muslim.

Hal ini disebutkan dalam ayat suci Al-Qur’an surat Al-Israa ayat 60:

… وَمَا جَعَلْنَا ٱلرُّءْيَا ٱلَّتِىٓ أَرَيْنَٰكَ إِلَّا فِتْنَةً لِّلنَّاسِ…

Wa ma ja’alnar-ru yallati arainaka illa fitnatal linnasi.

Artinya:
“Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia…”

3. Perintah salat lima waktu

Allah SWT menurunkan perintah salat lima waktu kepada Nabi Muhammad SAW secara langsung melalui peristiwa Isra Mikraj.

Mulanya, Allah SWT memerintahkan Rasulullah untuk menjalankan salat 50 waktu dalam sehari. Namun, Rasulullah meminta keringanan sehingga menjadi salat lima waktu dalam sehari.

Dari sini-lah, salat lima waktu menjadi ibadah wajib bagi umat Muslim.

4. Malam hari sebagai waktu terbaik untuk berdoa

Malam hari adalah waktu yang paling istimewa. Salah satunya dibuktikan dalam perjalanan Isra dan Mikraj yang dialami Nabi Muhammad SAW.

Malam merupakan waktu yang mustajab untuk berdoa.

Demikian beberapa hikmah Isra Miraj yang bisa dipetik umat Muslim. (utw)

Continue Reading

Gayahidup

MSG untuk Masakan Lezat, Halal, Bergizi dan Juga Mecin yang Sehat

Published

on

REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Setelah menunggu bertahun-tahun, akhirnya organisasi P2MI (Perkumpulan Pabrik Mononatrium Glutamat dan Asam Glutamat Indonesia), menyelenggrakan Sharing Time dengan tema; “MSG untuk Masakan Lezat, Sehat, Halal dan Bergizi”.

Acara ini dihadiri oleh anggota P2MI serta berbagai komunitas yang berhubungan dengan ekosistem bahan pangan di Indonesia, termasuk sejumlah wartawan yang mewakili berbagai media massa. Acara ini berlangsung pada Hari Senin (29/01/24), pukul 11.00 – 15.00 WIB., di Wajik Resto, Hotel Luminor Mangga Besar-Jakarta.

Narasumber yang hadir dalam sharing session itu, terdiri dari 2 Pakar; Nutrisi dan Gizi; Prof. Hardinsyah MS, PhD., dan dr. Sheena M.Gz, SpGk, AIFO., serta 2 Ahli Masak; Chef Muto dan Chef Ajis. Dalam acara tersebut, para pakar akan membahas secara obyektif dan faktual tentang MSG dan manfaatnya bagi tubuh manusia.

Sekaligus akan membeberkan berbagai mitos yang berkembang dimasyarakat Indonesia, tentang MSG alias Mecin alia Vitsin, tentang penyedap masakan, yang sering kita temui, saat menikmati Bakso, Nasi Goreng serta berbagai jenis makanan lainnya.

MSG (MonoSodium Glutamat) atau Bumbu Ummi telah digunakan selama lebih dari satu abad untuk meningkatkan dan menyeimbangkan rasa gurih makanan. Meskipun penggunaannya tersebar luas dan banyak manfaatnya, kesalahpahaman konsumen tentang MSG cukup umum, dengan banyaknya mitos tentang MSG yang beredar di Internet dalam beberapa tahun terakhir.

Apakah MSG itu Bumbu Masak yang Berbahaya? Mitos atau Fakta? Mari Kita Buktikan

Mitos: MSG menyebabkan reaksi alergi
Faktanya, glutamat merupakan salah satu asam amino yang paling umum (bahan yang membangun protein dalam makanan dan tubuh kita) di alam. Ini adalah penambah rasa alami dan banyak ditemukan pada makanan seperti jamur, keju parmesan, dan tomat. Tubuh kita memperlakukan glutamat dalam bumbu MSG dan glutamat alami dari banyak makanan yang kita nikmati sehari-hari dengan cara yang sama tanpa membedakan asal-usulnya. Karenanya kecil kemungkinan orang-orang sensitif terhadap MSG.

Mitos: MSG menyebabkan efek di otak
Faktanya: sejumlah penelitian menunjukkan bahwa MSG tidak memiliki efek negatif pada sistem saraf pusat otak. Bahkan dalam satu penelitian di mana glutamat plasma dinaikkan 10 kali lipat di atas normal, yang mana tidak pernah benar-benar terjadi di kehidupan nyata, tidak ada glutamat yang masuk ke otak. Ini menunjukkan keefektifan otak dalam menangkal glutamat agar tidak memasuki otak.

Selain itu, MSG adalah bahan yang membatasi diri. Setelah sejumlah MSG yang sesuai telah ditambahkan ke makanan, menggunakan lebih banyak hanya memberikan sedikit tambahan rasa. Faktanya, menambahkan terlalu banyak MSG sebagai bumbu tambahan justru dapat mengurangi kelezatan dari makanan tersebut.

Mitos: MSG dapat menyebabkan sakit kepala atau migrain?
Faktanya: MSG tidak memicu sakit kepala.

“Beberapa makanan memang telah dikaitkan dengan migrain, tetapi baik glutamat maupun MSG tidak terbukti menjadi penyebab langsung, bahkan setelah dilakukannya penelitian ekstensif dengan dosis glutamat yang besar,” ungkap dr. Sheena M.Gz, SpGk, AIFO di Jakarta, (29/1/2024).

Pada Januari 2018, International Headache Society menghapus MSG dari daftar faktor penyebab sakit kepala. Sebelumnya, MSG telah terdaftar sebagai zat yang dikaitkan dengan sakit kepala di International Classification of Headache Disorders (ICHD) Society. Sekarang, dalam ICHD edisi ke-3, berdasarkan bukti ilmiah terbaru, MSG telah dihapus dari daftar ini.

Mitos: MSG mengandung sodium yang tinggi
Faktanya, Monosodium glutamat, atau MSG, adalah bentuk glutamat murni, yang bergabung dengan natrium (sodium). MSG memiliki kandungan natrium yang lebih rendah daripada garam meja dan sering digunakan untuk membantu meningkatkan rasa pada makanan yang rendah natrium. Mengganti garam dengan beberapa MSG dalam resep masakan akan mengurangi kandungan natrium pada masakan tersebut. Hal ini dikarenakan MSG memiliki natrium dua pertiga lebih sedikit daripada garam meja.

Dalam sebuah penelitian, yang diterbitkan dalam British Journal of Nutrition (April 2010), para peneliti dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Provinsi Jiangsu menilai asupan glutamat makanan pada hampir 1.300 orang Tiongkok. Para peneliti mengamati bahwa selama penelitian 5 tahun, tidak ada hubungan antara konsumsi MSG dan penambahan berat badan, bahkan pada orang dengan asupan MSG yang relatif tinggi.

Sebuah studi sebelumnya yang diterbitkan dalam European Journal of Clinical Nutrition (EJCN) edisi Februari 2019, menemukan bahwa monosodium glutamat (MSG) dalam makanan mungkin memiliki efek positif pada fungsi kognitif pada orang yang menderita demensia.

Dalam studi EJCN, para peneliti di School of Health Science, Tottori University Jepang, membagi peserta studi menjadi dua kelompok berdasarkan apakah mereka mengonsumsi MSG. Ini adalah uji coba dengan sistem single-blind (di mana subjek penelitian tidak mengetahui bahan uji yang diberikan) dan placebo-controlled (di mana subjek penelitian dibagi menjadi 2 dan diberi bahan uji berbeda). Penelitian ini melibatkan 159 subjek dengan penyakit demensia yang tinggal di rumah sakit atau panti jompo. Para peneliti menemukan bahwa peserta studi yang mengonsumsi MSG setiap hari mengalami sedikit peningkatan dalam memori. Misalnya, mereka mampu mengingat lebih banyak kata dalam tes dan merasa lebih mudah untuk mengetahui waktu.

Para peneliti tidak dapat menjelaskan mengapa MSG mungkin memiliki efek positif pada memori, tetapi mereka menyebutkan itu mungkin karena meningkatkan penyerapan seng pada tubuh. Para peneliti mencatat, “Meskipun kami tidak dapat membuat kesimpulan yang jelas, regenerasi pengecap sebagai respons terhadap peningkatan penyerapan seng selama periode asupan MSG mungkin muncul sebagai efek berkelanjutan, bahkan setelah konsumi MSG dihentikan.”
Para peneliti menyatakan sebagai kesimpulan, “Hasil kami menunjukkan bahwa konsumsi MSG secara terus- menerus memiliki efek pada fungsi kognitif,” mencatat bahwa subjek dalam kelompok MSG menunjukkan peningkatan fungsi kognitif pada tindak lanjut empat minggu setelah periode intervensi.

APA ITU P2MI?
P2MI berdiri sejak 15 September 1971, dengan didasari atas kepentingan untuk memajukan dunia usaha pangan khususnya bahan tambahan pangan MSG (monosodium glutamat) dan turunannya diseluruh wilayah Indonesia. Anggotanya adalah perusahaan yang memproduksi MSG atau masyarakat umum menyebutnya mecin bernama; Sasa, Miwon dan Ajinomoto. Tentu saja, perusahaan-perusahaan tersebut telah memiliki sertifikat halal dari MUI dan izin edar dari BPOM.

Adapun Visi P2MI adalah; Untuk menjadi asosiasi yang memberikan informasi yang benar dan faktual tentang MSG dan turunannya kepada masyarakat dan instansi terkait, serta memajukan Industri MSG dan GA di Indonesia, agar dapat berdaya saing tinggi.

Sementara Misi P2MI adalah; Memperjuangkan kepentingan Industri MSG dan GA dalam hubungannya dengan Pemangku kepentingan yang terkait, mengusahakan penyediaan produk pangan yang berkwalitas tinggi, sesuai dengan ketentuan perundangan, serta menguatkan kemampuan anggotanya dan masyarakat dengan program-program yang bermanfaat bagi anggota dan masyarakat Indonesia. (utw)

Continue Reading
Advertisement

Trending