Connect with us

Internasional

Minyak, Kekuasaan dan Intervensi AS di Venezuela

Published

on

Minyak, Kekuasaan dan Intervensi AS di Venezuela

REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Di perairan Karibia yang hangat, di lepas pantai Venezuela, dentuman ledakan menggema. Bukan badai yang datang, tetapi tiga kapal perusak Amerika Serikat yang mengawasi, dan serangan udara yang mengklaim puluhan nyawa.

Ini adalah babak baru dari sebuah drama panjang, sebuah permainan catur geopolitik di mana bidaknya adalah minyak, kekuasaan, dan kedaulatan sebuah bangsa.

Cerita ini berakar jauh,sejak awal abad ke-20, ketika kekayaan hitam ditemukan mengalir deras di perut bumi Venezuela. Perusahaan-perusahaan AS mengendalikan harta karun ini, hingga pada 1976, pemerintah Venezuela mengambil alih. Sejak itu, hubungan tak pernah sama. Lalu, datanglah Hugo ChΓ‘vez, dengan ideologi sosialis sayap kirinya, membawa Venezuela lebih dekat ke pangkuan Rusia, Tiongkok, dan Iran. Setelah kematiannya, NicolΓ‘s Maduro meneruskan warisan yang sama, namun dihadapkan pada ekonomi yang runtuh, isolasi internasional, dan hantaman sanksi AS yang bertubi-tubi. Bahkan, Departemen Kehakiman AS menuduhnya sebagai “kartel narkoba”.

Ironisnya,negeri yang dilanda krisis ini duduk di atas gunung emas hitam. Cadangan minyak terbesar di dunia, lebih dari 300 miliar barel! Ditambah cadangan gas alam terbesar keempat dunia. Sebuah harta yang, bagi sebagian pihak, terlalu berharga untuk dibiarkan di tangan yang dianggap “berseberangan”.

Dan dalam beberapa bulan terakhir,ketegangan memuncak. Dalihnya: perang melawan narkoba. Buktinya: 15 serangan yang diklaim AS, 62 nyawa melayang. Kapal perusak dikerahkan, serangan udara pertama dilancarkan, bahkan CIA dikabarkan diberi mandat untuk “operasi rahasia”. Namun, bisikan di balik layar, seperti yang dilaporkan The New York Times, mengungkap tujuan sebenarnya: menggulingkan Presiden Maduro.

Lalu, bagaimana rencana Washington ini akan diwujudkan? Analisis memetakan tiga skenario yang mungkin.

Skenario Pertama: Pemberontakan Internal.Washington mendorong kudeta dari dalam, dengan dukungan logistik dan intelijen. Namun, skenario ini rapuh. Oposisi terfragmentasi, sementara aparat keamanan pemerintah masih kuat.

Skenario Kedua: Serangan Militer dan operasi pasukan khusus untuk menangkap Maduro. Media Barat sudah mempersiapkan narasinya, terutama dengan momentum Hadiah Nobel Perdamaian untuk pemimpin oposisi, Juan Machado.

Skenario Ketiga: Tekanan dan Negosiasi Mematikan.

Trump memilih skenario kedua yaitu operasi militer dan penangkapan Maduro serta pemaksaan kendali atas sumber daya.

lalu apa yang akan dilakukan Trump selanjutnya atas Venezuela?
Pemilihan umum yang “terkendali” akan disusul kemudian, memastikan kemenangan pihak oposisi yang pro-AS.

Apa yang terjadi di Venezuela bukanlah cerita baru.Ini adalah pengulangan dari pola lama yaitu Panama 1989, di mana presidennya diseret dengan tuduhan narkoba, dan rezimnya diganti. AS melihat Amerika Latin sebagai halaman belakangnya. Tetapi, ada yang berbeda kali ini. Arogansi kekuasaan ini, seperti yang diingatkan oleh pemikir Prancis Emmanuel Todd, bukanlah tanda kekuatan, melainkan gejala kelemahan.

Seperti firman-Nya: “Dan Kami tidak akan membinasakan negeri-negeri itu, kecuali jika penduduknya adalah orang-orang yang zalim.”

Presiden Venezuela Maduro Diculik oleh AS, Apapun Dihalalkan Demi Minyak!

Bodohnya pendukung Amerika dan Israel adalah keyakinan naif bahwa mereka akan β€œaman” selama sejalan secara ideologis atau agama. Venezuela membongkar ilusi itu: rezimnya Kristen, bukan Muslim, namun tetap dihantam tanpa ampun. Ini bukti telanjang bahwa mereka tak peduli apa agamamu, nilai apa yang kau agungkan, atau demokrasi versi siapa yang dianut. Satu-satunya kitab suci mereka adalah kepentingan.

Jika memiliki apa yang mereka butuhkan, minyak, gas, posisi strategis, maka itu akan diambil darimu, by war or by consensus. Jika kau melawan, kau diserbu. Jika kau tunduk, kau diperas perlahan. Yang tersisa bagi para pemujanya hanyalah kehinaan, menjadi alat, bukan sekutu, menjadi pasar, bukan mitra, menjadi korban yang suatu hari sadar bahwa kesetiaan pada imperium tak pernah menjamin keselamatan.

di tengah gemanya konflik kepentingan global, kita renungkan bersama, Apakah ini tentang narkoba? Ataukah tentang 300 miliar barel minyak yang tersembunyi di balik perairan Karibia yang mulai memanas?

Menhan Venezuela: Donald Trump Mencuri Minyak Kita!

Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino menyatakan negaranya menolak kehadiran pasukan asing usai serangan Amerika Serikat (AS) ke ibu kota Caracas, Sabtu (3/1/2026) dini hari waktu setempat.

“Venezuela yang bebas, merdeka, dan berdaulat, dengan seluruh kekuatannya sepanjang sejarah, menolak kehadiran pasukan-pasukan asing yang hanya membawa kematian, rasa sakit, dan kehancuran,” kata Padrino dalam pesan video yang dirilis pada Sabtu (3/1).

Padrino menambahkan, otoritas Venezuela sedang mengumpulkan informasi mengenai korban luka dan korban meninggal dalam serangan AS di Caracas.

Lebih lanjut, Vladimir Padrino mendesak komunitas internasional mengutuk serangan AS ke negaranya. Menhan Venezuela tersebut menyatakan serangan AS sebagai tindakan “jahat dan pengecut” yang mengancam stabilitas kawasan.

“Usai serangan jahat dan pengecut yang merusak perdamaian dan stabilitas kawasan ini, di hadapan komunitas internasional, kami mengecam dengan sangat keras dan menyerukan seluruh organisasi multilateral mengutuk pemerintah AS atas pelanggaran Piagam PBB dan hukum internasional,” kata Padrino dikutip Anadolu.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengeklaim telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan Ibu Negara Venezuela Cilia Flores dalam serangan di Caracas.

Trump menyatakan Maduro dan Cilia Flores telah diterbangkan ke luar Venezuela. Pasangan tersebut dilaporkan akan diadili di AS.

“(Maduro) beserta istrinya telah ditangkap dan diterbangkan ke luar negara (Venezuela). Operasi ini digelar sesuai koordinasi dengan Departemen Hukum AS,” kata Trump dikutip Associated Press. (tw)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement