Otomotif
Mobil Hybrid Jepang Rp 200 Jutaan Sulit Saingi Jualan EV China
REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Berbagai pabrikan Jepang kini mulai memasuki pasar mobil hybrid dengan harga di bawaah Rp300 jutaan. Sebut saja Suzuki dengan varian XL7 nya dan juga Daihatsu dengan varian Rocky Hybrid.
Ekspansi di sektor hybrid ini terang-terangan menjadi strategi pabrikan Jepang dalam menghadapi masifnya penjualan mobil buatan China seperti BYD dan juga Chery. Alih-alih beralih ke baterai, pabrikan Jepang memang lebih suka meluncurkan mobil hybrid.
“Visi jangka panjang kita, ya menengahlah, 2030 kita berharap 50% jualan kita itu sudah hybrid” kata Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam di Jakarta, (1/12/2025).
Namun demikian, pengamat otomotif ITB, Yannes Martinus Pasaribu menilai bahwa strategi pabrikan Jepang beralih ke hybrid di bawah 300 juta memang terukur tapi mengandung risiko struktural.
“Saat ini, mereka memanfaatkan insentif pajak 3% untuk HEV dan memanfaatkan kelemahan EV di range harga sekelasnya terkait range anxiety dgn infrastruktur charging yang masih minim” kata Yannes.
“Tapi, mengingat kompleksitas teknis hybrid dengan dua sistem penggerak justru sebenarnya membuat biaya produksi dan perawatan lebih tinggi dibandingkan EV produk China sekelas powernya” kata Yannes
Yannes juga menilai mobil-mobil Jepang tersebut juga harganya tak lebih murah dengan hybrid China yang mamasukkan mobil hybrid dengan range identik namun memiliki teknologi digital lebih canggih seperti Chery, DFSK, Geely, dan BAIC. Chery Tiggo Cross Hybrid misalnya, sudah mampu menawarkan ADAS level 2 dengan harga setara.
Selain itu, Yannes menilai jika pabrikan Jepang juga tidak boleh lupa bahwa saat ini sedang terjadi proses besar perubahan demografi yang cukup kritis lantaran Gen Z dan Milenial mulai mendominasi pasar entry level di bawah 300 jutaan, dengan preferensi pengalaman digitalisasi dan harga yang lebbih murah
“Ketika Gen Z dan Milenial mulai mendominasi pasar mobil di bawah Rp300 juta, preferensi mereka bukan lagi pada brand legacy atau reliabilitas mesin konvensional, tetapi pada experience digital yang seamless, konektivitas 5G, user interface intuitif, dan value for money yang dihitung secara holistik meliputi biaya energi, servis, depresiasi, hingga social currency” lanjut Yannes
Yannes menyebut bahwa disinilah strategi hybrid Jepang mulai goyah, karena mereka harus berhadapan dengan EV China yang lebih kompetitif secara harga dan lebih kaya fitur.
“Persaingan tiga arah ini (HEV Jepang vs HEV China vs EV China) menciptakan dilema eksistensial bagi Toyota dan Suzuki, karenaketika mereka menargetkan 50% penjualan hybrid, mereka justru mengalokasikan investasi triliunan rupiah untuk platform yang secara teknis lebih rumit dan mahal diproduksi dibandingkan EV.” kata Yannes.
Sementara itu, menurutnya konsumen muda yang menjadi pembeli utama di segmen ini justru semakin rasional dalam menghitung total ongkos kepemilikan 5 tahun EV yang jauh lebih murah dengan capital expenditure setara produk Jepang.
Diprediksi Tergeser
Yannespun menilai bahwa nantinya segmen pasar andalan pabrikan Jepang seperti Low Cost Green Car akan bergeser lambat laun seiring dengan mulai banyaknya infrastruktur yang akan dibangun untuk mobil listrik.
“Adalah sangat menantang untuk dapat mencapai 50% pangsa pasar di segmen Rp299 juta dalam jangka panjang.” kata Yannes.
Ia juga memprediksi, pabrikan Jepang kemungkinan akan bertahan dengan menguasai 40-45% pangsa pasar dalam 2 sampai 3 tahun ke depan dengan infrastruktur charging yang belum merata dan brand loyalty di kalangan konsumen lamanya yang berusia 45 tahun ke atas.
“Tapi setelah itu akan menurun, karena konsumen muda yg populasinya akan terus membesar tersebut lebih memilih satu langkah langsung ke depan dengan EV China atau Vietnam yang lebih modern daripada setengah langkah dengan hybrid Jepang yang terasa seperti berkompromi dengan teknologi ICE di era transisi.” katanya.
Meski begitu Yannes bilang bahwa saat ini sebenarnya, pabrikan Jepang seperti Toyota sudah mulai melirik mobil listrik terutama dengan salah satu EVnya bZ3 sudah berkolaborasi dengan BYD untuk powertrain dan baterai.
“Jadi sebenarnya Toyota sudah memilih path kedepannya dengan berkolaborasi selektif dengan pemain China yang spesifik, seperti BYD dan GAC, tetapi, tetap menggunakan platform e-TNGA desain Toyota sendiri”
Menurut Yannes, intinya di pasar Indonesia, Toyota harus semakin memperkuat brandingnya bagi 42% konsumen Indonesia yang masih percaya Toyota karena kemampuan in-house R&D mereka serta keunggulan jejaring 3S (Sales-Service-Spareparts) yang dimilikinya dan belum dikuasai oleh China.
Indonesia Kebanjiran Mobil Listrik Impor

Industri otomotif Indonesia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Penjualan mobil turun, di sisi lain mobil listrik impor dari luar negeri justru membanjiri pasar otomotif Tanah Air.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui keterangan tertulisnya menyampaikan, penjualan mobil listrik di Indonesia saat ini meningkat signifikan saat total pasar otomotif turun. Namun, kenaikan penjualan ini sebagian besar berasal dari mobil listrik yang diimpor utuh atau CBU dari negara lain.
Dari total penjualan mobil listrik tahun 2025 sebesar 69,146 unit, 73 persennya merupakan mobil listrik impor. Kemnperin menegaskan, produksi dan nilai tambah serta penyerapan tenaga kerja industri mobil listrik impor itu berada di negara lain, bukan di Indonesia.
Di sisi lain, segmen kendaraan lain yang diproduksi di dalam negeri dan memiliki share terbesar dalam pasar otomotif nasional terus mengalami penurunan penjualan signifikan, bahkan jauh di bawah jumlah produksi tahunan kendaraan pada segmen tersebut.
“Jadi, keliru jika kita menyatakan industri otomotif sedang dalam kondisi kuat dengan hanya mengandalkan indikator pertumbuhan kendaraan pada segmen tertentu. Penurunan tajam penjualan kendaraan bermotor roda empat jauh di bawah angka produksinya di kala penjualan kendaraan EV impor naik tajam adalah fakta yang tidak bisa dihindari. Dan, harus menjadi indikator pertumbuhan industri otomotif nasional saat ini. Kami memandang bahwa dibutuhkan insentif untuk membalikkan keadaan tersebut,” ujar Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief dikutip dari keterangan tertulisnya, Senin (1/12/2025).
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, penjualan mobil selama Januari-Oktober 2025 secara wholesales (distribusi dari pabrik ke dealer) hanya sebanyak 634.844 unit. Angka itu turun 10,6 persen dibanding tahun lalu yang mencapai 711.064 unit. Sedangkan secara retail sales (penjualan dari dealer ke konsumen) tercatat sebanyak 660.659 unit pada Januari-Oktober 2025. Angka itu turun 9,6 persen dari tahun lalu yang mencapai 731.113 unit. (utw)
