Connect with us

Otomotif

Nasib Ojol Gunakan Motor Listrik, Orderan Jadi Sering Ditolak!

Published

on

REPORTASE INDONESIA – Curhat Ojol pemakai motor listrik jadi salah satu berita paling populer selama 2022. Tak lagi memakai motor bensin, abang Ojol berkisah tentang suka dan duka memakai motor listrik, termasuk soal orderan yang sering ditolak.

Tepatnya 7 September 2022, sempat berbincang langsung dengan driver ojol bernama Muhammad Sadeli. Dia mengaku sudah lama menggunakan motor listrik Smoot Tempur untuk mengangkut penumpang.

Sadeli menjelaskan, selama berbulan-bulan menggunakan motor listrik, dirinya merasa ada perbedaan dibandingkan motor bertenaga bensin. Misalnya, suara mesin yang lebih halus, biaya operasional yang lebih irit, serta kecepatan yang masih di bawah rata-rata.

“Kalau ditanya bedanya sama motor bensin, ini motor listrik lelet banget, enggak bisa ngebut. Kecepatannya cuma 50 kilometer per jam. Jadi kalau ada yang order, saya sering nanya dulu, buru-buru enggak? Takutnya nih motor enggak bisa ngejar,” ujar Sadeli.

Sadeli mengaku, customer sering kali membatalkan pesanannya setelah tahu dirinya memakai motor listrik. Meski rasanya sakit, namun lama-lama dia terbiasa dengan keadaan tersebut.

“Kalau ada yang mau order buru-buru, kitanya repot, susah. Saya sih sejujurnya sering banget (orderannya) di-cancel semenjak naik motor listrik. Itu biasanya setelah saya kasih tahu (via pesan) kalau saya naik motor listrik. Biasanya mereka yang emang mau buru-buru,” urainya.

Bukan hanya itu, Sadeli menambahkan, ada sejumlah konsumen yang membatalkan orderannya usai tahu dirinya hendak mampir ke swap station untuk mengganti baterai. Sebab, bagi sebagian konsumen, itu membutuhkan banyak waktu.

“Padahal ganti baterai paling cuma sekian detik,” kata Sadeli. (tw)

Otomotif

Harga Mulai Rp 5 Jutaan, Ada 57 Motor Listrik Subsidi per Juni 2024

Published

on

REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Memasuki Juni 2024, daftar sepeda motor listrik penerima subsidi pemerintah sebesar Rp 7 juta tercatat ada 57 model. Jumlah ini belum mengalami pertumbuhan sejak Februari lalu.

Dilansir dari situs Sistem Informasi Pemberian Bantuan Pembelian Kendaraan Listrik Roda Dua (Sisapira.id) (6/6/2024), model paling baru yang tercatat di daftar tersebut adalah merek Polytron Fox-S (PT Hartono Istana Energi).

Namun, setelah itu belum ada lagi model baru yang masuk daftar subsidi motor listrik. Sebelumnya, jumlah model motor listrik penerima subsidi memang mengalami lonjakan signifikan pada Januari 2024.

Ketika akhir 2023, jumlah model motor listrik penerima subsidi masih berjumlah 40-an tipe, tapi dalam rentang waktu satu bulan langsung meningkat menjadi 50-an tipe.

“Saya lihat secara umum, model yang lagi ngetren di sepeda motor listrik model yang kayak Vespa gitu, yang kecil-kecil,” ujar Ketua Umum Asosiasi Industri Motor Listrik Indonesia (Aismoli) Budi Setiyadi, kepada Kompas.com belum lama ini.

Adapun dari sisi harga, rupanya banderol motor listrik subsidi yang paling diminati berada di segmen entry level. “Kalau murah kan relatif, sangat tergantung dari harga baterai. (Yang paling diminati) harga Rp 15 jutaan sampai Rp 17 jutaan,” ucap Budi.

Berikut ini daftar motor listrik subsidi per 6 Juni 2024:

1. Selis Agats SLA Rp 9,49 juta

2. Selis Agats Rp 15,9 juta

3. Selis Emax Rp 13,5 juta

4. Selis Go Plus Rp 22,499 juta

5. Smoot Tempur Rp 11,5 juta

6. Smoot Zuzu Rp 12,9 juta

7. Polytron Fox-R Rp 13,5 juta

8. Polytron Fox-S Rp 11,5 juta

9. Rakata S9 Rp 13,5 juta

10. Rakata X5 Rp 15,1 juta

11. Alva One Rp 29,49 juta

12. Alva Cervo ADC-BP AT Rp 35,75 juta

13. Alva Cervo 1 Battery ADC-BP-L1R A/T Rp 30,75 juta

14. Greentech Scood Rp 9,5 juta

15. Greentech Aero Rp 8,9 juta

16. Greentech VP Rp 9,7 juta

17. Greentech Ranger Rp 7,5 juta

18. Greentech Scood VRLA Rp 7,5 juta

19. Greentech Hurricane Rp 8,5 juta

20. Greentech Aero VRLA Rp 6,9 juta

21. Greentech VP VRLA Rp 7,5 juta

22. Greentech Unity Rp 5,3 juta

23. United T1800 Rp 23,5 juta

24. United TX1800 Rp 26,9 juta

25. United TX3000 Rp 42,9 juta

26. United MX1200 AT Rp 8,8 juta

27. Volta 401 Rp 9,95 juta

28. Volta 402 Rp 11,1 juta

29. Volta 403 Rp 11,95 juta

30. Viar New Q1 Rp 14,52 juta

31. Viar NX Rp 7,32 juta

32. Viar EV1 Rp 9,32

33. Gesits G1 Rp 21,97 juta

34. Gesits Raya Rp 20,9 juta

35. Yadea E8S Pro Rp 16,9 juta

36. Yadea T9 Rp 14,5 juta

37. Yadea G6 Rp 20,5 juta

38. Exotic Sterrato Rp 5,59 juta

39. Exotic Vito Rp 5,79 juta

40. Exotic Mizone Rp 6,19 juta

41. Exotic Sprinter AT Rp 7,99 juta

42. Exotic Sprinter Pro-Max Rp 7,99 juta

43. Quest Atom Rp 20,95 juta

44. Uwinfly N9 Pro Smart Rp 8,39 juta

45. Uwinfly T3 Smart Rp 6,39 juta

46. Uwinfly GN Smart Rp 5,99 juta

47. Uwinfly T5 Smart Rp 9,99 juta

48. Uwinfly BW Smart Rp 7,79 juta

49. Uwinfly X6 Smart Rp 15 juta

50. Jarvis Morgan Rp 12,9 juta

51. Enine T1 + Lit Rp 12,999 juta

52. Enine V5 Lit Rp 15 juta

53. ECGO 3 A/T Rp 15,9 juta

54. ECGO 5 A/T Rp 12,9 juta

55. Alessa Uno Rp 10,9 juta

56. Alessa Duo Rp 12,9 juta

57. Honda EM 1 e: Rp 33 juta. (tw)

Continue Reading

Otomotif

Mengapa Mobil Listrik Kurang Laku Walau Pajaknya Nol Persen?

Published

on

REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Penjualan mobil listrik di Indonesia telah menunjukkan pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir, meskipun masih jauh tertinggal dibandingkan dengan penjualan mobil konvensional. 

Sedangkan bila dibandingkan dengan jumlah penjualan di negara lain, jumah penjualan di Indonesia sangat jauh tertinggal.

Data terbaru menunjukkan bahwa pada tahun 2023, estimasi penjualan mobil listrik mencapai sekitar 3.000 unit, menandai lonjakan signifikan dari tahun-tahun sebelumnya.

Meskipun pertumbuhan ini menggembirakan, masih ada sejumlah faktor yang mempengaruhi penjualan mobil listrik di Indonesia. Dilansir dari berbagai sumber, berikut beberapa faktor mandeknya penjualan mobil listrik di Indonesia,

Harga yang Cenderung Mahal

Salah satu faktor utama adalah harga yang masih tergolong tinggi dibandingkan dengan mobil konvensional. Meskipun biaya operasional mobil listrik biasanya lebih rendah, harga beli yang tinggi menjadi hambatan bagi banyak konsumen.

Harga beli mobil listrik tinggi disebabkan banyak hal, salah satunya faktor baterai. Baterai merupakan komponen paling mahal dalam sebuah mobil listrik. 

Saat ini, biaya produksi baterai lithium-ion masih tinggi, sehingga menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan harga mobil listrik menjadi mahal.

Selain itu belum adanya produksi mobil listrik lokal secara massal di Indonesia menyebabkan ketergantungan pada impor. Hal ini mengakibatkan tambahan biaya logistik dan biaya impor yang berujung pada peningkatan harga jual mobil listrik.

Rantai pasok komponen mobil listrik di Indonesia belum sematang rantai pasok mobil konvensional. Keterbatasan ini menyebabkan kelangkaan komponen dan berpotensi meningkatkan biaya produksi.

Produksi mobil listrik masih belum mencapai skala massal di Indonesia juga berpengaruh pada harga. Kurangnya volume produksi menyebabkan biaya produksi per unit menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan mobil konvensional yang sudah diproduksi secara massal.

Infrastruktur

Infrastruktur pengisian daya mobil listrik masih belum memadai di Indonesia. Keterbatasan stasiun pengisian daya yang tersedia dapat menjadi kendala bagi pengguna mobil listrik dalam melakukan perjalanan jarak jauh.

Per November 2023, infrastruktur mobil listrik di Indonesia terus mengalami perkembangan meskipun masih tergolong terbatas dibandingkan dengan jumlah kendaraan listrik yang beredar. 

Data menunjukkan bahwa jumlah infrastruktur mobil listrik telah meningkat, Sebanyak 350 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) telah tersedia, memberikan akses kepada pengguna kendaraan listrik untuk mengisi daya baterai mereka di berbagai lokasi umum.

Terdapat 20 Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU), yang memberikan layanan alternatif bagi pengguna kendaraan listrik dengan sistem penukaran baterai yang lebih cepat dan efisien.

Sementara itu, jumlah Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) mencapai angka 2.700. Infrastruktur ini tidak hanya mendukung pengisian kendaraan listrik, tetapi juga menyediakan layanan pengisian untuk berbagai perangkat elektronik lainnya di ruang umum.

Meskipun jumlah infrastruktur mobil listrik terus berkembang, tantangan utama yang dihadapi adalah memastikan ketersediaan yang memadai di seluruh wilayah Indonesia, terutama di daerah-daerah yang masih terpencil. 

Diperlukan upaya kolaboratif dari pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk terus memperluas dan meningkatkan aksesibilitas infrastruktur mobil listrik guna mendukung pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia.

Kesadaran Masyarakat

Kesadaran masyarakat tentang manfaat mobil listrik juga masih rendah. Banyak konsumen masih kurang familiar dengan teknologi ini dan mungkin mempertimbangkan mobil konvensional sebagai pilihan yang lebih familiar.

Pemerintah Indonesia telah melakukan upaya yang signifikan untuk mendorong pertumbuhan pasar mobil listrik, termasuk kebijakan pajak 0%, subsidi, pembangunan infrastruktur pengisian daya, dan promosi penggunaan mobil listrik.

Dengan dukungan dari pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan lainnya, diharapkan bahwa penjualan mobil listrik di Indonesia akan terus meningkat di masa depan. 

Pertumbuhan pasar ini tidak hanya akan membawa manfaat bagi lingkungan dengan mengurangi emisi gas rumah kaca, tetapi juga dapat membuka peluang baru dalam industri otomotif nasional serta meningkatkan kemandirian energi negara.

Meskipun tantangan masih ada, namun prospek masa depan mobil listrik di Indonesia terlihat cerah dengan adanya komitmen yang kuat untuk mendorong transisi menuju mobilitas yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. (tri)

Continue Reading

Otomotif

Dampak Buruk Mencampur Pertamax dan Pertalite

Published

on

REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Mencampur Pertamax dan Pertalite dapat memiliki beberapa dampak pada mesin kendaraan Anda. Berikut adalah beberapa poin penting yang perlu dipertimbangkan:

  • Oktan: Pertamax memiliki nilai oktan (RON) yang lebih tinggi dibandingkan Pertalite. Jika Anda mencampur kedua jenis bahan bakar ini, nilai oktan yang dihasilkan akan berada di antara kedua nilai tersebut.
  • Performa Mesin: Mesin yang dirancang untuk bahan bakar dengan oktan tinggi mungkin tidak beroperasi secara optimal dengan bahan bakar campuran karena proses pembakaran yang tidak sempurna, yang dapat meninggalkan residu di mesin.
  • Aditif: Pertamax seringkali mengandung aditif seperti deterjen, antioksidan, dan anti korosi, yang tidak ditemukan dalam Pertalite. Pencampuran kedua bahan bakar ini bisa menghasilkan ‘hump effect’ atau deposit yang lebih parah daripada jika tidak dicampur, yang dapat menyebabkan kerak karbon di saluran masuk mesin dan kepala piston.
  • Emisi: Penggunaan campuran bahan bakar yang tidak sesuai dengan spesifikasi mesin dapat menyebabkan peningkatan emisi gas buang.

Secara umum, disarankan untuk menggunakan bahan bakar yang sesuai dengan spesifikasi mesin kendaraan Anda untuk menjaga performa dan efisiensi mesin serta mengurangi risiko kerusakan. Jika Anda tidak yakin, sebaiknya konsultasikan dengan manual kendaraan atau tanyakan kepada ahli mesin terpercaya. (tri)

Continue Reading
Advertisement

Trending