Connect with us

Megapolitan

Pengamat: Sudah Tahu Barang Busuk dari Awal Harusnya Dihentikan

Published

on

Pengamat: Sudah Tahu Barang Busuk dari Awal Harusnya Dihentikan

REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin merespons sikap Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan yang menyebut Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh bvsuk sejak awal. Wijayanto setuju, lantaran kereta yang dibangun di era Jokowi itu terlalu dipaksakan.

Sejalan dengan pernyataan Wijayanto, Luhut memang menyebut bahwa proyek KCJB sudah bermasalah sejak awal perencanaan. Wijayanto pun mengaku, jika kembali ke masa lalu sebaiknya Whoosh tidak perlu dibangun.

Sebelumnya, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) tiba-tiba menyebut proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) adalah barang busuk, sangatlah aneh. Pada 2021, Jokowi menunjuk Luhut sebagai Ketua Komite Proyek KCJB.

β€œSaya yang sedari awal mengerjakan itu (proyek KCJB), saya nerima sudah busuk itu barang (Kereta Whoosh),” tegas Luhut.

Ini Cara Geng Mulyono Ngembat Duit Kereta Cepat

GENG Solo eh geng Mulyono mulai panik atas kebijakan keuangan sang Menteri. Kereta cepat dihambat. Membayar hutang Whoosh tidak boleh menggunakan APBN. B to B tawaran Jepang ternyata dipilih China yang bergeser B to G. Kini dibuat kalang-kabut karena harus kembali menjadi B to B sebagaimana konsep awal. Tapi B atau G banci juga, soalnya saat ini BPI Danantara yang harus menangani.

Setelah Purbaya menyebut tidak gunakan dana APBN maka Luhut sang kreator dan motor KA Cepat Whoosh mencak-mencak β€œSiapa yang minta APBN ?”, ketusnya. Rupanya soal APBN itu lemparan atau usul Rosan Roeslani CEO Danantara. Akhirnya semua setuju Danantara yang menanggulangi. Toh dana BUMN terhimpun di dalamnya. Hutang Whoosh ke China fantastis mencapai 116 trilyun rupiah.

Menurut analis kebijakan publik Agus Pambagio proyek kerjasama Whoosh dengan skim hutang ke China adalah ide dari Jokowi. Ekonom Anthoni Budiawan menyatakan proyek ini terindikasi mark up berlipat. Beban berat Whoosh dapat berakibat pailit dan ini berarti berpeluang untuk diambil alih atau dalam kendali penuh China. Jokowi sebagai pihak yang memaksakan harus bertanggungjawab. Diduga kuat Jokowi adalah bagian dari penikmat dana mark up.

Luhut sang kreator, motor, dan ambassador proyek China menganggap enteng masalah. Baginya hanya persoalan restrukturisasi hutang dengan China Development Bank (CDB). Ia minta segera turunkan Keppres untuk tim juru runding. Menurutnya pihak China telah bersedia. Luhut dan Jokowi merupakan Duo Whoosh. Jika proyek ini bangkrut mereka berdua harus bertanggungjawab secara hukum.

Mengingat terindikasi mark up, maka ruang korupsi sangat terbuka. BPK harus berhitung, PPATK mengusut aliran dana, dan KPK tidak boleh menutup mata. Harus mulai bergerak. Terlalu banyak pintu korupsi Jokowi baik dari 200 proyek PSN, BTS Kemenkominfo, dana haji Kemenag, proyek-proyek Kemendikbud, Bansos, pelepasan aset 6 Jt Ha hutan Kemenhut, izin tambang, IKN, Blok Medan, proyek infrastruktur, dana Covid, dan lainnya. Kini diramaikan KCIC Whoosh.

Jokowi Presiden korup, tukang bohong, jago pencitraan, ijazah palsu, dan banyak kenistaan lainnya jelas merupakan figur buruk bangsa. Memilukan dan memalukan.

Ironinya ternyata sekelas UGM sang Rektor Ova Emilia masih memuji-muji sebagai alumni yang menjadi kebanggaan Fakultas Kehutanan UGM. Figur bobrok kok dibanggakan ?

Bersama kasus-kasus lain Whoosh yang faktanya menjadi beban keuangan negara akan menyeret Jokowi dan geng nya ke tempat sampah. Siapa menanam akan menuai. Jokowi sudah sangat layak untuk dipenjara. Sumpek Indonesia atas keberadaannya. (tri)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement