Olahraga
PSSI Panggil 32 Pemain untuk Persiapan Kualifikasi Piala Dunia 2026
REPORTASE INDONESIA – Jakarta, PSSI resmi mengumumkan nama 32 pemain yang dipanggil memperkuat timnas Indonesia untuk dua laga penting kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia pada Juni, Minggu.
Skuad Garuda akan menjamu China, 5 Juni, dan melawat ke Jepang, 10 Juni pada dua laga tersisa di putaran ketiga.
Dari daftar yang diumumkan, mayoritas pemain kunci tetap dipertahankan. Namun, absennya Ragnar Oratmangoen menjadi salah satu kejutan.
Ragnar sebelumnya selalu jadi andalan di lini depan Garuda, namun kali ini namanya tidak muncul.
Sementara itu, bek kanan Asnawi Mangkualam kembali masuk skuad setelah absen pada laga Maret. Penampilan apiknya di Liga Thailand musim ini jadi alasan utama pemanggilan kembali sang kapten.
Pelatih Patrick Kluivert juga mulai melirik nama-nama dari kompetisi dalam negeri. Beberapa pemain Liga 1 yang mencuri perhatian seperti Stefano Lilipaly, Septian Bagaskara, Yakob Sayuri, Yance Sayuri, dan kiper Reza Arya ikut dipanggil ke pemusatan latihan.
Indonesia saat ini berada di peringkat keempat klasemen sementara Grup C dengan koleksi sembilan poin. Tim Garuda masih berpeluang lolos langsung ke putaran final Piala Dunia 2026, atau menjalani kualifikasi zona Asia putaran keempat.
Untuk tanggal 5 Juni 2025, Indonesia akan menghadapi Cina di GBK dan Jay Idzes tetap menjadi Kaptten Timnas Indonesia.
๐ฃ ๐๐๐ซ๐ฎ๐๐ ๐๐๐ฅ๐ฅ๐ข๐ง๐ ๐ฎ๐ฉ
๐ #AsianQualifiers ๐๐จ๐ฎ๐ง๐ ๐
โฝ๏ธ Matchday ๐ and ๐๐
๐ China โ ๐/๐๐/๐๐๐๐
๐ Japan โ ๐๐/๐๐/๐๐๐๐

Berikut daftar lengkap pemain:
Kiper:
Maarten Paes (FC Dallas/AS), Emil Audero (Palermo/Italia), Ernando Ari (Persebaya Surabaya), Nadeo Argawinata (Borneo FC), Reza Arya Pratama (PSM Makassar)
Bek:
Jay Idzes (Venezia/Italia), Rizky Ridho (Persija Jakarta), Justin Hubner (Wolverhampton Wanderers/Inggris), Jordi Amat (Johor Darul Taโzim/Malaysia), Mees Hilgers (Twente/Belanda)
Gelandang:
Thom Haye (Almere/Belanda), Ricky Kambuaya (Dewa United), Marselino Ferdinan (Oxford United/Inggris), Ivar Jenner (Utrecht/Belanda), Joey Pelupessy (Lomel/Belgia), Nathan Tjoe-A-On (Swansea City/Inggris)

Sayap/Bek Sayap:
Yakob Sayuri (Malut United)i, Kevin Diks (Copenhagen/Denmark), Sandy Walsh (Yokohama Marinos/Jepang), Eliano Reijnders (PEC Zwolle/Belanda), Asnawi Mangkualam (Port FC/Thailand), Yance Sayuri (Malut United), Calvin Verdonk (NEC Nijmegen), Dean James (Go Ahead Eagles), Shayne Pattynama (tidak ada klub), Pratama Arhan (Bangkok United/Thailand)
Penyerang:
Ole Romeny (Oxford United/Inggris), Egy Maulana Vikri (Dewa United), Rafael Struick (Brisbane Roar/Australia), Stefano Lilipaly (Borneo FC), Ramadhan Sananta (Persis Solo), Septian Bagaskara (Dewa United).
Patrick Kluivert: Pelatih Jarak Jauh yang Tak Kenal Indonesia

Patrick Kluivert mungkin legenda sepak bola dunia, tapi di Indonesia, ia terasa lebih seperti turis elite dengan jabatan teknis. Sudah berbulan-bulan sejak ditunjuk menjadi bagian dari proyek besar PSSI, tapi keberadaan Kluivert lebih sering terasa lewat namaโbukan tindakan.
Mari kita jujur: apa sebenarnya yang sudah Kluivert lakukan untuk sepak bola Indonesia?
Lebih Kenal Barcelona daripada Bhayangkara FC
Sementara pelatih lain seperti Shin Tae-yong terbang ke pelosok negeri demi menyaksikan laga Liga 1, Kluivert justru lebih betah di Eropa, menikmati kenyamanan stadion kelas dunia dan menyapa mantan rekan di Barcelona. Ia lebih hafal jadwal El Clasico daripada jadwal Liga 1. Ironis, mengingat gaji dan tanggung jawabnya berasal dari rakyat Indonesia, bukan penonton Camp Nou.
Bagaimana bisa kita berharap dia membangun masa depan sepak bola nasional jika lapangan Stadion Patriot pun belum tentu ia kenali?
Pemantau Diaspora? Atau Sekadar Titip Nama?
Kluivert kerap disebut sebagai โjembatan diasporaโ, tapi apakah kita benar-benar butuh duta diaspora yang tinggal di luar negeri tanpa memahami kondisi lokal? Pemain diaspora bukanlah masalah utama. Masalah kita ada di sini: pembinaan, kompetisi, mentalitas, dan infrastruktur. Dan semua itu tak bisa dipahami dari balik layar laptop di Belanda.
Gaji Mahal, Dampak Nol
Publik berhak bertanya: untuk apa menggaji nama besar jika kontribusinya tidak terasa? Kluivert tak memberi arah jelas, tak terlibat dalam proyek pembinaan usia dini, tak hadir dalam pengembangan pelatih lokal, dan bahkan minim komunikasi dengan media atau suporter. Lalu untuk apa dia ada?
Apakah perannya hanya sebagai pemanis CV PSSI?
Indonesia Tak Butuh Simbol, Tapi Pejuang
Sepak bola Indonesia sedang berada di titik penting. Kita butuh orang yang hadir, turun tangan, berkeringat, dan menyatu dengan lapangan-lapangan kering dan bola-bola usang di kampung. Bukan seseorang yang hanya muncul saat ada panggung internasional atau konferensi pers penuh basa-basi.
Jika Patrick Kluivert tidak siap untuk tinggal di Indonesia, bekerja di Indonesia, dan mencintai sepak bola Indonesiaโmaka sebaiknya ia angkat kaki. Karena bangsa ini butuh pekerja keras, bukan tamu kehormatan.
Inikah pelatih Pilihan Tepat PSSI ?
Dulu menanti Pemain Datang, Kini Pelatih yang Tak Kunjung Datang

PSSI kembali membuktikan bahwa urusan โmemilih pelatihโ bukan hanya soal taktik, tapi juga seni menghilang. Setelah mengumumkan nama pelatih kepala baru beberapa waktu laluyang digadang-gadang sebagai โpilihan paling tepatโpublik justru bertanya-tanya: di mana sebenarnya sang pelatih?
Sejak diumumkan resmi menjabat, sosok sang pelatih lebih mirip mitos sepakbola modern. Tak ada konferensi pers, tak ada sesi latihan terbuka, bahkan saat Indonesia menjalani laga uji coba dan sesi pemusatan latihan, yang muncul hanyalah asisten pelatih, menjelaskan dengan wajah lelah dan bahasa diplomatis.
Beberapa pengamat menyebut kehadiran sang pelatih seperti angin malam di stadion kosong: terasa dingin, tapi tak pernah benar-benar terlihat. Bahkan hingga kini, publik lebih mengenal nama asisten dibanding sang โarsitek utamaโ tim nasional.
“Ini bukan soal teknis, ini sudah ke arah eksistensial. Kita sedang dibimbing oleh pelatih Schrรถdinger ada dan tiada dalam waktu yang sama,” celetuk netizen di media sosial, menyinggung teori kuantum yang ternyata kini relevan dalam sepakbola nasional.
Dari sisi PSSI, mereka tetap bersikukuh bahwa pelatih tersebut adalah pilihan terbaik untuk masa depan sepakbola Indonesia. Hanya saja, โmasa depanโ yang dimaksud tampaknya masih jauh dari hari ini.
Apakah ini strategi kejut? Atau memang pelatihnya hanya figuran administratif? Yang jelas, publik kini menanti bukan hanya strategi di lapangan, tapi juga kemunculan nyata sang pelatih yang katanya sudah bekerja sejak hari pertama.
Sementara itu, para suporter hanya bisa berharap: semoga bayangan itu suatu hari benar-benar muncul. Bukan hanya di foto pengumuman, tapi di bangku cadangan, di pinggir lapangan, dan tentu saja โdi hati para pemain. (tri)
