Ekonomi
Ratusan Gerai Alfamart di Jabodetabek Tutup
REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Presiden Direktut PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), Anggara Hans Prawira melaporkan sebanyak 400 gerai Alfamart telah tutup sepanjang 2024. Sementara hingga kuartal I-2025 sebanyak 109 gerai juga terpaksa tutup, sehingga total terdapat 509 gerai Alfamart yang sudah tutup.
“Untuk tiga bulan ini ada 109 gerai yang ditutup terdiri dari gerai Alfamartnya 57 gerai, Alfamidi 19 gerai, dan Lawson 11, dan Dandan 22 gerai,” kata Anggara dalam konferensi pers di Kantor Alfa Tower, Alam Sutera, Tangerang Selatan, dikutip Jumat (23/5/2025).
Anggara meluruskan penyebab gerai Alfamart tutup bukan karena adanya penurunan penjualan hingga kinerja yang kurang baik. Melainkan salah satu faktornya dikarenakan ketersediaan lokasi dan kontrak sewa Alfamart dengan pemilik lokasi sudah berakhir.
“Itu satu sebabnya. Jadi bukan karena performance, tapi karena tempatnya tidak dimungkinkan kembali untuk diperpanjang sewanya,” kata dia.
Perusahaan, kata dia, sengaja tidak memperpanjang sewa lahan karena harganya naik tinggi. Setelah lima tahun disewa, kadang-kadang pemilik lahan mematok harga sewa di atas lima tahun.
“Karena naik sewanya luar biasa tinggi sehingga buat kita, mungkin kita putuskan untuk enggak perpanjang di situ, tapi kita pilih alternatif tempat lain,” ucapnya.
Faktor lainnya, adalah masalah performa dari gerai tersebut. Apabila ditemukan performa penjualan yang tidak ramai, maka perusahaan akan mempertimbangkan untuk lebih baik menutup saja gerainya daripada diteruskan namun tidak menghasilkan untung yang signifikan.
“Tapi kita melihat performance di toko itu tidak tumbuh atau melangkah. Menurut kita lebih bagus, lebih baik, itu kita tutup dibanding kita pertahankan. Jadi penutupan toko ada kriteria itu,” ucapnya.
Anggara pun melihat mayoritas gerai Alfamart yang tutup berada di wilayah Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek). Pasalnya, dia melihat harga sewa toko di wilayah itu memiliki harga sewa yang mahal.
“Karena Jabodetabek kan UMP-nya paling tinggi, biaya sewanya paling tinggi. Jadi, kalau melihat bentuk biaya yang berbeda, sales-nya juga mungkin naiknya gak terlalu tinggi kan. Kalau kayak gitu tentu kita harus tutup operasionalnya,” ucap Anggara. (ut)
