Megapolitan
Kesaksian Korban Dugaan Pelecehan Seks di Miss Universe Indonesia, Panitia Acara Dituduh ‘Membiarkan’
REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Sejumlah peserta Miss Universe Indonesia mengaku “merasa direndahkan” dan “traumatis” setelah “dipaksa membuka baju” dalam acara kontes kecantikan itu. Pihak panitia dituduh “membiarkan kekerasan seksual” jika terbukti tidak melindungi peserta yang diduga dilecehkan saat acara pemotretan.
Aktivis perempuan, Tunggal Pawestri mengatakan kalau penyelenggara tidak melakukan itu, mereka patut dianggap sebagai enabler atau pihak yang membiarkan kekerasan seksual.
“Jangan sampai penyelenggara itu menjadi enabler yang akhirnya membuat pelaku itu bisa seenaknya melakukan pelecehan seksual karena mereka (penyelenggara) tidak memproteksi para peserta,” ujarnya.
Sejumlah finalis Miss Universe telah melaporkan dugaan pelecehan seksual di acara kontes kecantikan itu ke Polda Metro Jaya, Senin (07/08).
Kuasa hukum korban, Melissa Anggraini berkata bahwa pihak penyelenggara mengetahui dan mengakui adanya body-checking di mana para finalis dipaksa untuk membuka baju mereka.
Dan pada Senin (07/08) malam, sejumlah peserta acara ini menggelar jumpa pers mengaku “merasa direndahkan” dan “traumatis” setelah “dipaksa membuka baju”.
Setelah sejumlah korban dugaan pelecehan seksual dalam acara kontes kecantikan itu melaporkan kasusnya, pihak penyelenggara Miss Universe Indonesia akhirnya membuka suara.
Direktur Miss Universe Indonesia, Poppy Capella, mengeklaim melakukan investigasi atas dugaan bahwa finalis dipaksa untuk menanggalkan pakaian saat pemeriksaan tubuh atau body-checking.
Kronologi dugaan pelecehan seksual finalis Miss Universe Indonesia
Melissa menjelaskan, body-checking itu dilakukan pada tanggal 1 Agustus di Jakarta pada saat karantina dua hari menjelang acara grand final Miss Universe Indonesia.
Menurutnya, agenda pemeriksaan tubuh tidak ada dalam rundown acara hari itu. “Yang mereka [peserta] ketahui mereka mau melakukan fitting (mencoba gaun -red),” ujarnya.
Berdasarkan keterangan seorang finalis, pemeriksaan itu dilakukan di area ballroom yang disekat “seadanya” dan “bukan tempat yang layak untuk berganti baju”. Sang finalis merasa risih ketika diminta untuk menanggalkan pakaiannya.

“Yang pertama tidak pernah tahu ada dilakukan body-checking, yang kedua itu kan ramai; di dalam bilik yang sekecil itu ada laki-laki, ada orang lalu-lalang gitu kan,” kata Melissa.
Melissa mengatakan sang finalis merasa takut dan mengalami “pergolakan batin”; dia mempertanyakan apakah prosedur ini benar-benar diperlukan. Akhirnya dia membuka baju sampai tinggal tersisa pakaian dalam.
“Ternyata malah dibentak,” kata Melissa. “Katanya ‘embrace yourself’ dan di kancah internasional lebih parah, kira-kira kayak begitu lah. Sehingga dalam kebimbangan penuh tekanan itu ya mereka melakukan itu.”
Melissa mengatakan ada 30 finalis yang menjalani body-checking seperti yang dialami oleh kliennya, tetapi belum semuanya buka suara kepada publik.
Dugaan pelecehan seksual di ajang Miss Universe Indonesia 2023 pertama kali diungkap oleh Director Miss Universe Indonesia Bali, Sally Giovanny.
Akhir pekan lalu, Sally mengunggah tangkapan layar percakapannya dengan Director Miss Universe Indonesia Jawa Barat Rizky Ananda Musa mengenai kabar adanya peserta yang disuruh telanjang lalu difoto saat pemeriksaan tubuh.
Rizky kemudian mengunggah ulang Instagram Story Sally, menegaskan bahwa pihaknya juga melakukan pemeriksaan tubuh terhadap peserta tetapi tidak mengambil potret telanjang mereka.
Setelah unggahan di Instagram Story itu menjadi viral, CEO, fotografer, dan Beauty Director Miss Universe Indonesia mengundurkan diri.
Dalam konferensi pers Senin (07/08), fotografer Riomotret memastikan dirinya dan sang eks CEO Elwend Wang tidak ada di lokasi ketika dugaan pelecehan seksual itu terjadi.
Rio mengatakan mereka baru mengetahui peserta diminta untuk difoto tanpa busana saat body-checking setelah mendengar keluhan dari provincial director.
“Kebetulan ada komplain dari anak-anak yang dilaporkan oleh provincial director. Kami sebagai penyambung lidah, membantu untuk menyampaikan bahwa ada komplain dari mereka bahwa anak-anak ini menjadi korban foto bugil,” ujarnya seperti dilaporkan kompas.com.
Rio menceritakan dia dan Elwend marah, dan mendesak agar file foto dan video pemotretan itu dihapus. Dia berkata bahwa dia menyaksikan sendiri proses penghapusan fail-fail tersebut.
“Kalau dihapus, memang kami melihat sendiri itu dihapus. Bahkan kami tidak melihat secara foto besar, hanya thumbnail saja, karena kami berdua menghormati privasi para wanita ini, total ada 5 perempuan yang kena, yang difoto, tapi yang ditelanjangi, semuanya, ada 30,” ujar Rio.
Namun, dia mengatakan tidak bisa memastikan fail-fail tersebut sudah dikirim atau ditransmisikan ke mana saja.
‘Saya trauma, direndahkan’ – Apa kesaksian korban?
Dalam jumpa pers, Senin (07/08), sejumlah finalis Miss Universe menceritakan apa yang mereka alama saat acara body-checking, termasuk dipaksa untuk membuka baju.
Seperti dilaporkan sejumlah media, mereka merasa “tertekan” karena tempat body-checking hanya ditutup sekat kayu.
Area itu digambarkan “ramai” dan “banyak orang lalu-lalang”, ungkap di antara mereka.
“Saya sangat bingung dan tidak nyaman tapi karena kondisinya tertekan kita diteriakin ‘enggak boleh malu’, saya nurut-nurut saja. Itu bikin saya kesal dengan diri saya sendiri karena saya tidak boleh melawan,” ungkap salah-seorang korban.
Salah-seorang finalis berinisial R menjelaskan, awalnya kontestan diminta fitting (mencoba) baju. Namun, sekonyong-konyong ada agenda body checking yang tidak diinformasikan sebelumnya.
“Sebagai wanita saya merasa sangat direndahkan. Ini bukan sebagai miss universe, memang perlu ya sampai segitunya? Dan saya di ajang lain pun tidak pernah ada body check yang sampai separah ini,” katanya dalam jumpa pers.
Akibat dipaksa membuka baju, seorang peserta berinisial J mengaku merasa “terganggu mentalnya” akibat peristiwa tersebut.
Ia merasa “malu dan overthinking” karena ini mengalami “pengalaman buruk dan traumatis” ini.
“Saya benar-benar sampai sekarang susah tidur karena overthinking, karena saya sebelumnya belum pernah ikut beauty pageant dan ini first impression saya, saya merasa sedih banget dapat perlakuan seperti ini,” ungkapnya di hadapan wartawan.
Penyelenggara Miss Universe Indonesia disebut mengakui ada foto tanpa busana
Melissa mengklaim pihak penyelenggara Miss Universe Indonesia pusat mengetahui dan mengakui adanya sesi pemotretan tanpa busana. Namun mereka tidak melakukan investigasi internal.
Malah, setelah muncul protes dari provincial director, penyelenggara mengumpulkan para finalis dan menyampaikan bahwa sesi pemotretan itu dimaksudkan untuk mengecek hal-hal yang dianggap sebagai ketidaksempurnaan pada tubuh seperti bekas luka atau selulit.
“Jadi seolah-olah mereka mengakui memang ada perbuatan itu tapi karena alasan-alasan tertentu. Sementara dilakukan dengan sembrono, tidak proper, tidak ada SOP, tidak ada pemberitahuan; artinya di sini perusahaan justru pasang badan terhadap apa yang dilakukan oleh si pelaksananya di lapangan,” kata Melissa.
“Itu yang membuat keluarga dan klien kami merasa semakin tersakiti, tidak ada keadilan bagi mereka, lalu memutuskan untuk melaporkan ini.”
Sang pengacara mengatakan pengakuan tersebut terekam dalam video yang telah ditunjukkan kepada Polda Metro Jaya sebagai barang bukti.
Dia berargumen, bila memang ada ketidaksesuaian antara yang dilakukan oleh tim di lapangan dengan agenda besar atau prinsip organisasi seharusnya pihak Miss Universe Indonesia (MUID) melakukan investigasi internal kepada si “oknum” tetapi hal itu tidak dilakukan.
“Ini kan saya melihat tidak ada pertanggungjawaban secara moral. Tapi tidak apa-apa, kita akan minta pertanggungjawaban pidana saja.”
Secara terpisah, National Director and Owner Miss Universe Indonesia, Poppy Capella, merilis pernyataan tertulis melalui unggahan Instagram Story di akun resmi missuniverse_id pada Selasa malam (08/08).
Pernyataan tersebut “terkait dengan pemberitaan media mengenai hal-hal yang terjadi dalam perhelatan Miss Universe Indonesia” namun tidak menyebut dugaan pelecehan seksual atau body-checking.
“Kami telah melakukan investigasi dan memeriksa hal-hal yang dituduhkan kepada kami, yang mana kami mengetahui hal tersebut dari media massa,” kata Poppy.
“Kami akan segera mengambil sikap maupun tindakan yang diperlukan terkait permasalahan ini agar menjadi jelas dan terang kebenarannya.”
Miss Universe Indonesia merupakan kontes kecantikan baru yang bertujuan mencari perwakilan Indonesia untuk dikirim ke kontes kecantikan internasional Miss Universe.
Sebelumnya, perwakilan Indonesia untuk dikirim ke Miss Universe ditentukan melalui kontes Puteri Indonesia. Namun Yayasan Puteri Indonesia telah memberikan lisensi tersebut ke Organisasi Miss Universe Indonesia yang baru didirikan pada 8 Februari 2023 lalu.
Lisensi itu kini dipegang oleh PT Capella Swastika Karya yang dipimpin oleh model Poppy Capella.
BBC News Indonesia telah meminta klarifikasi dan tanggapan kepada pihak MUID dan Poppy Capella melalui direct message Instagram namun belum mendapat jawaban sampai artikel ini terbit.
Aktivis perempuan desak MUID untuk dukung korban
Aktivis perempuan Tunggal Pawestri mengaku merasa “marah dan kecewa” ketika mendengar tentang dugaan pelecehan seksual di kontes kecantikan Miss Universe Indonesia. Apalagi, selama beberapa tahun belakangan para pegiat hak-hak perempuan telah berkampanye tentang kedaruratan kekerasan seksual – salah satu tonggaknya adalah pengesahan UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual pada 2022.
“Tapi ternyata … malah di satu ajang yang terbuka, yang mendapat perhatian banyak dari publik kok masih ada praktik kekerasan seksual semacam itu,” kata Tunggal kepada BBC News Indonesia.
Menurut Tunggal, pemangku kepentingan yang paling bertanggung jawab dalam kasus ini adalah penyelenggara Miss Universe Indonesia (MUID). Hal minimal yang bisa mereka lakukan, kata Tunggal, adalah mengakui kesalahan bila memang dugaan pelecehan ini terjadi di luar kontrol mereka.
“Hal minimal kedua adalah memberikan dukungan kepada para korban ketika mereka melaporkan ke kepolisian. Didampingi, misalnya. Kalau mereka punya bukti, diberikan buktinya, kooperatif sama pihak kepolisian,” ujarnya kepada BBC News Indonesia.
Perempuan yang menjabat direktur eksekutif di Yayasan Hivos itu juga mengatakan pihak MUID perlu berkonsultasi dengan organisasi-organisasi perempuan, setidaknya Komnas Perempuan, tentang cara menangani isu pelecehan seksual.
“It doesn’t make sense bagi saya kalau mereka enggak berdiri paling depan, sebagai penyelenggara, untuk melindungi teman-teman perempuan ini. Kalau mereka sama sekali enggak berkata apa-apa, enggak memberikan dukungan, yes they are enabler,” kata Tunggal.
Pernahkah hal seperti ini terjadi sebelumnya?
Maria Harfanti, pemenang Miss Indonesia 2015 dan runner-up Miss World, mengaku pernah menjalani pemeriksaan tubuh saat audisi. Pemeriksaan itu, dia menjelaskan, bertujuan mengecek body mass index alias proporsi tinggi badan dengan berat badan.
“Karena kan namanya ajang kecantikan kita akan tampil, jadi kita harus dilihat misalnya kulitnya harus bersih, berat badan dan tinggi badan harus proporsional.
“Tapi kalau sampai disuruh lepas busana sih saya tidak pernah mengalami sama sekali dan kebetulan teman-teman dari ajang lain selain dari Miss Universe Indonesia ini juga tidak pernah cerita ke saya hal tersebut,” kata Maria kepada BBC News Indonesia.
Maria mengatakan praktik body-checking di kontes kecantikan yang menyuruh peserta menanggalkan busana di hadapan orang asing “sangat tidak umum”. Menurut dia, praktik seperti ini mungkin baru pertama kali terjadi.
Tunggal Pawestri menduga kasus di Miss Universe Indonesia ini mungkin puncak gunung es. Kasus ini terungkap pada waktu ketika kesadaran korban untuk melaporkan pelecehan seksual semakin kuat.
Hal-hal semacam ini mungkin juga pernah terjadi di masa lalu namun korban memilih tutup mulut, ujarnya.

Pada awal 2000-an beredar VCD berisi casting iklan sabun yang memperlihatkan sejumlah model perempuan tampil nyaris tanpa busana. Buntut kasus tersebut, empat tersangka diseret ke meja hijau dan dituntut enam bulan penjara.
Tak lama setelah kasus itu, beredar VCD berisi rekaman beberapa model terkenal berganti baju di sebuah studio fotografi di Jakarta. Pemilik studio bersama rekannya dilaporkan memasang cermin dua arah dan menggunakannya untuk memfilmkan perempuan-perempuan tanpa sepengetahuan mereka di ruang ganti tersebut. Si pemilik studio, fotografer Budi Han, akhirnya divonis satu tahun penjara oleh PN Jakarta Selatan.
“Jadi ini juga bukan sesuatu yang kelihatannya baru-baru amat di industri entertainment seperti ini,” kata Tunggal. (ut)
