Connect with us

Internasional

Mengapa Miliarder Dunia Borong Lahan Pertanian?

Published

on

Mengapa Miliarder Dunia Borong Lahan Pertanian?

REPORTASE INDONESIA – Jakarta, Air: Emas Baru yang Sedang “Dirampok” dari Tangan Kita
Lupakan emas. Buang jauh-jauh obsesi lama soal minyak. Kalau Anda pikir perang masa depan itu soal rebutan wilayah atau ideologi, Anda salah besar. Kita sedang memasuki era di mana cairan yang Anda minum setiap hari—sesuatu yang Anda anggap “gratisan” dari alam—resmi jadi barang dagangan spekulan.

​Sejak tahun 2020, air sudah resmi melantai di bursa berjangka Chicago. Artinya apa? Air sekarang sejajar dengan gandum, minyak, dan mata uang. Para miliarder tidak lagi menunggu hujan turun; mereka sedang bertaruh pada kekeringan. Karena di dunia yang haus, kelangkaan adalah tambang emas.

​AI: Monster Digital yang Hausnya Minta Ampun

​Kita sering membayangkan Artificial Intelligence (AI) sebagai sesuatu yang bersih, digital, dan ada di awan (cloud). Faktanya? AI itu monster yang sangat haus.

​Setiap kali Anda iseng bertanya pada chatbot atau menjana gambar AI, sekitar 500 ml air menguap hanya untuk mendinginkan mesin-mesin raksasa mereka. Bayangkan, pusat data milik Google, Microsoft, dan Meta menelan miliaran liter air setiap tahun. Celakanya, 80% dari air itu hilang selamanya jadi uap.

​Kita sibuk mengejar kemajuan teknologi, tapi tanpa sadar kita sedang “meminum” masa depan kita sendiri demi sebuah jawaban instan dari mesin.

​Selamat Datang di Ambang Kiamat Air

​Mari bicara angka, dan tolong jangan menguap dulu karena ini mengerikan:

​71% bumi memang air, tapi yang bisa kita minum itu cuma kurang dari 1%.

​Tahun 2030, dunia diprediksi bakal defisit air sebanyak 40%.

​NASA sudah memberi peringatan: 21 dari 30 sumber air bawah tanah terbesar di dunia sedang sekarat. Mereka diperas lebih cepat daripada kemampuan alam untuk mengisinya kembali.

​Dulu kita dengar istilah “Day Zero” di Cape Town atau Chennai—titik di mana keran benar-benar kering. Sebentar lagi, itu bukan cuma cerita dari negeri jauh, tapi kenyataan di depan pintu rumah kita.

​Para “Bandar” yang Menguasai Keran Dunia

​Siapa yang tertawa paling keras di tengah krisis ini? Tentu saja mereka yang punya modal.

​Bill Gates: Jangan cuma lihat dia sebagai orang IT. Dia adalah pemilik lahan pertanian pribadi terbesar di AS dengan ratusan sumur aktif.

​Stewart & Linda Resnick: Pasangan miliarder ini menguasai bank air bawah tanah terbesar di California.

​BlackRock & Goldman Sachs: Perusahaan keuangan raksasa ini tidak melihat air sebagai sumber kehidupan. Bagi mereka, air adalah profit margin. Mereka mengendalikan harga pasokan air global layaknya instrumen saham.

​Bahkan negara kaya minyak seperti Arab Saudi sudah mulai “mencuri” air secara halus. Mereka investasi lahan di Afrika dan Asia, menanam tanaman di sana, lalu membawanya pulang. Itu namanya “impor air virtual.” Mereka amankan perut mereka, sementara rakyat lokal dibiarkan gigit jari dengan tanah yang kering kerontang.

​Intinya begini: Kita hidup di zaman di mana hak asasi manusia ditekuk oleh harga pasar

Kekuasaan tertinggi bukan lagi di tangan pemerintah yang punya tentara, tapi di tangan mereka yang pegang kendali atas keran air Anda.

​Teknologi menciptakan permintaan, kekeringan menciptakan ketergantungan, dan ketergantungan menciptakan pasar yang dikendalikan segelintir orang. Siap-siap saja, di masa depan, bukan peluru yang bakal bikin kita bertekuk lutut, tapi rasa haus yang tak terbayar. (tri)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement